Media Kampung – Gunung Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa, kembali menunjukkan aktivitas vulkanik signifikan pada Selasa pagi, 23 Juni 2026. Erupsi yang terjadi sejak pukul 05.30 WIB menghasilkan kolom abu vulkanik setinggi sekitar 1.200 meter di atas puncak. Aktivitas ini membuat status Gunung Semeru ditetapkan pada Level III atau Siaga oleh pihak berwenang.
Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Semeru melaporkan bahwa kolom abu berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang dan arah angin condong ke selatan. Seismogram mencatat amplitudo maksimum 22 milimeter dengan durasi erupsi sekitar 2 menit 17 detik. Hingga pukul 08.30 WIB, telah terjadi tiga kali erupsi yang terekam secara resmi.
Pihak PVMBG mengimbau masyarakat dan pengunjung untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius 13 kilometer dari puncak Gunung Semeru, khususnya di sektor tenggara sepanjang aliran Besuk Kobokan. Selain itu, masyarakat juga diminta waspada terhadap potensi bahaya awan panas, guguran lava, dan aliran lahar yang dapat meluas hingga jarak 17 kilometer dari puncak di beberapa aliran sungai berhulu di sana, seperti Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat.
Larangan aktivitas juga berlaku dalam radius 5 kilometer dari kawah atau puncak untuk menghindari risiko lontaran batu pijar. Instruksi ini bertujuan untuk menjaga keselamatan warga dan wisatawan dari bahaya yang mungkin timbul akibat aktivitas vulkanik yang dinamis di Gunung Semeru.
Gunung Semeru dikenal sebagai salah satu gunung api paling aktif di Indonesia dengan sejarah letusan yang panjang. Catatan aktivitas vulkanik Semeru telah terdokumentasi sejak abad ke-19, dengan berbagai letusan besar tercatat pada tahun-tahun seperti 1941-1942, 1977, 2008, hingga letusan dahsyat pada 4 Desember 2021 yang menimbulkan dampak luas.
Selain erupsi terbaru, berbagai aktivitas vulkanik berulang seperti guguran awan panas, keluarnya lava pijar, dan letusan kecil merupakan ciri khas dari gunung ini. Masyarakat dan pengunjung diharapkan tetap mematuhi protokol keselamatan dan menjaga kelestarian lingkungan Taman Nasional Gunung Semeru yang menjadi habitat penting flora dan fauna di kawasan tersebut.
Selain perkembangan terkini Gunung Semeru, pengelola Taman Nasional Gunung Merbabu mengumumkan penutupan sementara dua jalur pendakian yaitu jalur Thekelan dan jalur Selo mulai akhir Juli hingga awal Agustus 2026. Penutupan dilakukan untuk menghormati tradisi masyarakat setempat dan mendukung pelaksanaan kegiatan Merapi Merbabu De Trail (MMDT). Calon pendaki disarankan untuk melakukan penyesuaian jadwal atau memilih jalur lain yang masih dibuka serta wajib melakukan booking online melalui laman resmi.
Dengan berbagai langkah antisipasi dan perhatian terhadap keselamatan, diharapkan masyarakat dapat tetap waspada dan menjaga keamanan saat beraktivitas di sekitar Gunung Semeru dan gunung-gunung api aktif lainnya di Indonesia.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan