Media Kampung – Warga di beberapa wilayah Sumatera mengalami dampak serius akibat blackout yang melanda kawasan ini, termasuk tujuh orang yang keracunan asap dari genset dan empat korban jiwa. Peristiwa ini juga membuat seorang mahasiswi terperangkap selama hampir satu jam di dalam lift, menambah daftar panjang dampak buruk pemadaman listrik besar-besaran tersebut.
Blackout yang terjadi di Sumatera Utara, Aceh, Sumatera Barat, dan Riau ini merupakan contoh nyata kegagalan sistem kelistrikan yang masih sangat bergantung pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis energi fosil dan infrastruktur terpusat. Sistem yang mengandalkan jaringan pembangkit dan transmisi terpusat tersebut membuat gangguan pada satu titik dapat berimbas pada pemadaman luas di berbagai wilayah secara bersamaan.
Selama pemadaman berlangsung, sejumlah masyarakat menggunakan genset sebagai sumber listrik alternatif. Sayangnya, penggunaan genset secara kurang aman menyebabkan tujuh orang mengalami keracunan asap beracun, dan empat di antaranya meninggal dunia. Kasus ini menjadi peringatan akan risiko kesehatan yang mengancam ketika masyarakat tidak memiliki akses listrik yang stabil dan aman.
Selain korban keracunan, insiden lain yang mencuri perhatian adalah seorang mahasiswi yang terjebak di dalam lift selama 50 menit akibat pemadaman listrik. Kejadian ini menyoroti betapa rentannya fasilitas umum dan keselamatan warga saat terjadi blackout besar.
Menurut Beyrra Triasdian, juru kampanye Renewable Energy dari Trend Asia, model sistem kelistrikan yang tersentralisasi dan bergantung pada pembangkit besar serta energi fosil berpotensi memperbesar risiko gangguan layanan listrik. Ia menekankan pentingnya percepatan desentralisasi energi yang berbasis pada energi terbarukan komunitas agar sistem kelistrikan menjadi lebih tangguh dan adil, mampu bertahan saat krisis seperti cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi akibat krisis iklim.
Peristiwa blackout di Sumatera ini bukanlah yang pertama di Indonesia. Dalam dekade terakhir, beberapa wilayah lain juga pernah mengalami pemadaman listrik besar, termasuk Jawa pada 2019 dan Bali pada 2025. Kesamaan penyebab utama adalah gangguan pada sistem transmisi yang rentan terhadap gangguan skala besar.
Pemerintah dan PLN saat ini tengah berupaya mengatasi gangguan tersebut dengan mengandalkan pembangkit listrik tenaga hidro dan gas selama proses pemulihan. Namun, tanpa perubahan signifikan pada sistem kelistrikan yang masih tersentralisasi, risiko blackout berskala besar masih tetap ada.
Peristiwa blackout dan dampaknya di Sumatera menjadi peringatan penting bagi seluruh pihak terkait untuk segera mengubah paradigma pengelolaan energi dan kelistrikan di Indonesia. Masyarakat berharap langkah cepat dan tepat dapat diambil agar layanan listrik menjadi lebih andal, aman, dan tidak membahayakan keselamatan warga.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan