Media Kampung – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Jombang mendorong sekolah dasar (SD) di wilayahnya untuk menciptakan lingkungan belajar yang inklusif. Langkah ini bertujuan mengakomodasi kebutuhan seluruh peserta didik, termasuk anak berkebutuhan khusus, agar setiap anak memperoleh hak pendidikan yang setara tanpa diskriminasi.
Pendidikan Inklusif Bukan Sekadar Kehadiran Fisik
Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar Disdikbud Jombang, Rhendra Kusuma, menegaskan bahwa penerapan pendidikan inklusif tidak hanya berfokus pada keberadaan siswa berkebutuhan khusus di sekolah reguler. Lebih dari itu, menyangkut kesiapan lingkungan sekolah dalam menerima dan mendukung keberagaman. Menurutnya, kepala sekolah dan guru memiliki peran sentral dalam membangun budaya sekolah yang ramah bagi seluruh peserta didik.
“Prinsip pendidikan inklusif harus menjadi bagian dari budaya sekolah. Seluruh guru dan kepala sekolah perlu terlibat dalam memberikan layanan pendidikan yang setara agar setiap anak dapat berkembang sesuai potensinya masing-masing,” ujar Rhendra dalam kegiatan Bimtek Pengembangan Budaya Inklusif pada Sekolah Dasar di Aula 1 dan Aula 2 Disdikbud Jombang, Kamis, 25 Juni 2026.
Pemahaman Inklusif untuk Semua Tenaga Pendidik
Rhendra menekankan bahwa pemahaman mengenai pendidikan inklusif perlu dimiliki oleh seluruh tenaga pendidik, bukan hanya guru pendamping khusus. Hal ini penting agar setiap guru mampu memberikan layanan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing siswa. Dengan demikian, tidak ada siswa yang merasa terpinggirkan atau tidak mendapat perhatian yang layak.
Dukungan Keluarga Kunci Keberhasilan
Keberhasilan pendidikan inklusif juga dipengaruhi oleh dukungan keluarga. Rhendra menjelaskan bahwa pendekatan dan strategi pembelajaran yang diterapkan di sekolah perlu mendapat penguatan di rumah. Sinergi antara sekolah dan orang tua sangat diperlukan agar proses perkembangan anak berjalan berkesinambungan.
“Apa yang dibangun di ruang kelas idealnya dapat dilanjutkan di lingkungan keluarga sehingga kebutuhan belajar dan perkembangan anak dapat terpenuhi secara optimal,” katanya.
Tantangan dan Upaya Peningkatan Kapasitas
Rhendra mengakui bahwa tantangan dalam pelaksanaan pendidikan inklusif masih beragam, mulai dari pemahaman masyarakat hingga kesiapan sumber daya di sekolah. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas guru dan kepala sekolah menjadi langkah yang terus didorong. Melalui penguatan budaya inklusif di jenjang SD, Disdikbud Jombang berharap seluruh peserta didik dapat belajar dalam lingkungan yang aman, nyaman, serta menghargai perbedaan. Dengan demikian, hak memperoleh pendidikan yang berkualitas dapat dirasakan oleh semua anak tanpa terkecuali.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan