Media Kampung – Di ujung timur Kabupaten Sidoarjo, tepatnya di Dusun Pucukan, Kelurahan Gebang, anak-anak harus menantang keterbatasan untuk mendapatkan pendidikan. Dusun yang terletak di kawasan pesisir ini dikelilingi tambak dan perairan, membuat akses menuju lokasi sangat sulit. Jalan sempit berlumpur saat hujan dan minimnya transportasi menjadi pemandangan sehari-hari warga.

Berdasarkan data monografi, Dusun Pucukan berjarak sekitar 12 kilometer dari kantor kelurahan dan 20 kilometer dari pusat Kecamatan Sidoarjo. Pada 2017, jumlah penduduknya tercatat 178 jiwa. Kondisi geografis yang terisolasi berdampak langsung pada layanan pendidikan.

Ketua RT setempat, Roni, mengungkapkan bahwa hingga kini belum tersedia pendidikan usia dini seperti TKA atau TKB di dusun tersebut. Anak-anak yang memasuki usia sekolah langsung masuk kelas satu SD tanpa persiapan. “Di sini itu kalau menurut saya pribadi pendidikannya kurang. Anak kecil-kecil itu TKA, TKB enggak ada,” ujar Roni pada Minggu, 21 Juni 2026.

Keterbatasan akses juga memengaruhi waktu belajar. Guru yang datang dari kota harus menempuh perjalanan panjang sehingga sering tiba pada pagi menjelang siang. Akibatnya, waktu belajar anak-anak menjadi terbatas, kadang hanya sekitar satu jam.

Selain akses, biaya pendidikan menjadi hambatan bagi sebagian keluarga. Banyak orang tua yang menggantungkan hidup pada hasil tambak dan pekerjaan serabutan. Surti Ningsih, salah satu warga, mengaku ingin anaknya bersekolah tinggi namun terkendala biaya. “Pengen banget sekolah tinggi, cuma biayanya enggak ada. Di sini yang punya biaya bisa sampai SMA, yang tidak punya kadang hanya sampai SMP,” katanya lirih.

Data berbagai lembaga sosial yang melakukan pendampingan menunjukkan Dusun Pucukan masih menghadapi persoalan khas daerah tertinggal: minimnya sarana prasarana, akses transportasi terbatas, dan kekurangan tenaga pendidik. Kondisi ini berdampak pada rendahnya kualitas layanan pendidikan.

Di tengah hamparan tambak dan jalan yang belum memadai, anak-anak Dusun Pucukan terus berangkat sekolah dengan segala keterbatasan. Mereka mungkin tinggal jauh dari pusat kota, tetapi mimpi-mimpi mereka tetap tumbuh tinggi. Harapan kini tertuju pada hadirnya perhatian dan kesempatan yang setara untuk belajar dan meraih masa depan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.