Media Kampung – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mengungkap bahwa mayoritas kasus kecurangan dalam Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) menargetkan Program Studi Kedokteran. Praktik penggunaan jasa joki menjadi modus utama dalam pelaksanaan ujian ini, dengan angka kasus mencapai hampir 99 persen.
Menteri Pendidikan Tinggi, Brian Yuliarto, menegaskan bahwa segala bentuk kecurangan dalam SNBT tidak akan ditoleransi. Ia menilai praktik tersebut tidak hanya merugikan peserta lain yang mengikuti seleksi secara jujur, tetapi juga merusak nilai keadilan serta mencederai pembangunan karakter generasi muda bangsa.
Ketua Panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB), Eduart Wolok, membenarkan data tersebut dengan menyatakan bahwa hampir seluruh pelanggaran pada tahun lalu dilakukan pada peserta yang memilih Program Studi Kedokteran. Jasa joki ujian menjadi metode yang paling umum digunakan dalam pelanggaran ini.
Untuk mengantisipasi kecurangan yang berulang setiap tahun, panitia SNBT menerapkan strategi khusus dengan menjadwalkan ujian bagi peserta yang memilih Prodi Kedokteran dan Kedokteran Gigi pada hari pertama dan kedua pelaksanaan tes. Langkah ini bertujuan untuk mengurangi peluang praktik kecurangan dengan mempersempit waktu persiapan peserta dalam menggunakan jasa joki.
Eduart menambahkan bahwa penempatan ujian pada hari awal menjadi bagian dari upaya pengawasan ketat yang dilakukan panitia agar seleksi berjalan adil dan transparan. Pemerintah pun berkomitmen untuk terus memperketat pengawasan SNBT di masa mendatang guna menjaga integritas seleksi masuk perguruan tinggi secara nasional.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan