Media Kampung – Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. dr. Ova Emilia, menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam menurunkan angka kematian ibu dan bayi di Indonesia. Hal ini diungkapkan dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) XVII Himpunan Obstetri Ginekologi Sosial Indonesia (HOGSI) 2026 yang berlangsung di Yogyakarta pada Selasa (12/5).

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan angka kematian ibu di Indonesia pada 2023 masih cukup tinggi, yakni sekitar 189 hingga 177 per 100.000 kelahiran hidup. Sementara angka kematian bayi tercatat sekitar 16 per 1.000 kelahiran hidup, menjadikan Indonesia termasuk dalam 10 negara dengan beban kematian ibu terbesar secara global.

Dalam simposium bertema ‘Menurunkan Angka Kematian Ibu dan Anak dengan Pendekatan Strategi Terpadu’, tiga akademisi UGM memaparkan berbagai strategi komprehensif. Salah satunya adalah penguatan peran perguruan tinggi yang mencakup pendidikan, penelitian, inovasi teknologi, serta pelayanan kesehatan.

Prof. Ova Emilia menjelaskan, universitas memiliki lima peran strategis dalam upaya ini, yaitu pendidikan dan pelatihan, penelitian dan inovasi, kampanye perilaku sehat, kolaborasi lintas sektor, dan pelayanan kesehatan melalui rumah sakit pendidikan. Ia menekankan perlunya integrasi antara fungsi-fungsi utama perguruan tinggi agar program-program yang dijalankan tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling mendukung dalam satu ekosistem terpadu.

Sejalan dengan itu, Dr.dr. Shinta Prawitasari, dosen Departemen Obstetri dan Ginekologi FK-KMK UGM, menyoroti pentingnya asuhan prakonsepsi. Ia menjelaskan bahwa deteksi faktor risiko sebelum kehamilan dapat mencegah komplikasi yang berisiko menyebabkan kematian ibu dan bayi. Asuhan ini meliputi intervensi biomedis, perilaku, dan sosial, termasuk pemeriksaan kesehatan, perubahan gaya hidup, serta edukasi dan pemberdayaan perempuan.

Selain itu, Prof. dr. Gunadi, Guru Besar FK-KMK UGM, mengungkapkan potensi kedokteran genomik sebagai pendekatan baru untuk menekan angka kematian bayi dan stunting. Teknologi genomik membantu mendeteksi kelainan genetik dan mengarahkan terapi yang lebih tepat sasaran. Program Biomedical and Genome Science Initiative (BGSi) yang dikembangkan bersama Rumah Sakit Dr. Sardjito dan UGM telah mengumpulkan data genomik yang cukup besar dari populasi Indonesia.

Meskipun demikian, Prof. Gunadi mengingatkan bahwa penerapan skrining genomik secara luas masih menghadapi tantangan seperti biaya tinggi dan ketersediaan terapi yang memadai. Ia menekankan perlunya dukungan regulasi dan infrastruktur agar layanan ini dapat dinikmati secara merata oleh masyarakat.

Dengan berbagai inisiatif tersebut, UGM menunjukkan komitmen kuat untuk berkontribusi dalam menurunkan angka kematian ibu dan bayi melalui pendekatan terpadu yang menggabungkan pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat, dan pelayanan kesehatan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.