Media Kampung – Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menolak untuk mengundurkan diri meskipun menghadapi tekanan besar dari anggota Partai Buruh dan sejumlah menteri dalam kabinetnya. Sikap tersebut disampaikan menjelang pembukaan parlemen yang akan membahas program legislasi pemerintah selama setahun ke depan.

Tekanan terhadap Starmer meningkat setelah Partai Buruh mengalami kekalahan signifikan dalam pemilu lokal pekan lalu. Hasil buruk tersebut menimbulkan kekhawatiran besar bahwa jika pola serupa terjadi dalam pemilu nasional sebelum 2029, partai bisa kehilangan kekuasaan secara telak. Meski belum ada menteri senior yang secara terbuka menuntut pengunduran diri Starmer, spekulasi terus muncul bahwa Menteri Kesehatan Wes Streeting, yang memiliki banyak pendukung di internal partai, mulai mempertanyakan kepemimpinan Starmer.

Situasi politik saat ini mengingatkan pada jatuhnya mantan Perdana Menteri Boris Johnson pada 2022, ketika puluhan menteri mengundurkan diri secara massal. Kali ini, beberapa menteri junior yang baru terpilih pasca kemenangan besar Partai Buruh pada 2024 telah mengundurkan diri dan menyuarakan desakan agar Starmer melepaskan jabatannya.

Miatta Fahnbulleh, Menteri Perumahan dan Pemerintahan Daerah, menjadi yang pertama mundur dan menyerukan agar Starmer mengambil langkah yang benar demi negara. Menteri Perlindungan Jess Phillips juga mengundurkan diri dengan menyatakan bahwa meskipun Starmer adalah sosok yang baik, ia gagal menghadirkan perubahan signifikan. Phillips menegaskan, “Tindakan jauh lebih penting daripada kata-kata.”

Lebih dari 70 anggota parlemen Partai Buruh menyerukan agar Starmer mundur atau setidaknya menetapkan jadwal pengunduran diri. Namun, surat yang ditandatangani lebih dari 100 anggota parlemen menyatakan bahwa saat ini bukan waktu untuk menggelar kontestasi kepemimpinan dan fokus harus diarahkan untuk memulihkan kepercayaan publik.

Dalam rapat kabinet mingguan, Starmer mengakui tanggung jawab atas kekalahan pemilu lokal, tetapi menegaskan akan terus memimpin pemerintahan. Ia menambahkan, gejolak politik yang terjadi dalam beberapa hari terakhir telah memberikan dampak negatif secara ekonomi bagi Inggris. Hal ini tercermin dari naiknya imbal hasil obligasi pemerintah Inggris yang menandakan meningkatnya kekhawatiran investor mengenai stabilitas politik nasional.

Selain tekanan internal, Starmer juga menghadapi kritik terkait penunjukan kontroversial Peter Mandelson sebagai duta besar Inggris untuk Washington yang berujung skandal. Kondisi ekonomi Inggris yang lesu dan ketidakmampuan pemerintah mengatasi biaya hidup yang tinggi juga menjadi faktor yang memperburuk posisi Starmer.

Meski begitu, Starmer tetap optimistis dan bertekad mempertahankan jabatannya. Ia berupaya memperkuat dukungan di dalam kabinet dan mengajak semua pihak untuk bekerja sama mengatasi tantangan yang dihadapi Partai Buruh dan negara. Pertemuan dengan beberapa tokoh seperti Menteri Kesehatan Wes Streeting juga dijadwalkan guna membahas langkah ke depan.

Dengan situasi politik yang masih dinamis dan tekanan yang belum mereda, masa depan kepemimpinan Starmer akan terus menjadi perhatian publik Inggris dan dunia internasional.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.