Media Kampung – Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Institut Français Yogyakarta (IFI) akan mengadakan lokakarya penulisan kreatif dan penerjemahan karya sastra Indonesia dan Prancis pada 18–22 Mei 2026 di Gedung GIK UGM. Acara ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa jurusan bahasa Prancis dari perguruan tinggi di Indonesia dan Malaysia, peserta magang pengajaran bahasa Prancis sebagai bahasa asing (FLE), serta para guru bahasa Prancis di tingkat SMA dalam praktik transdisipliner penerjemahan dan penulisan kreatif.

Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran UGM, Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA., menjelaskan bahwa lokakarya ini melibatkan tiga belas narasumber dari Prancis, Malaysia, dan Indonesia yang ahli di bidang penulisan kreatif, penerjemahan, dan interpretariat. “Konferensi dan lokakarya penulisan ditargetkan kepada mahasiswa dan guru bahasa Prancis,” kata Wening pada Jumat, 8 Mei. Kegiatan ini juga didukung oleh Kedutaan Besar Prancis di Indonesia, Erlangga, GIK UGM, dan Institut Français Paris.

Lokakarya ini menjadi wadah penting untuk membuka peluang profesional di bidang penerjemahan dan interpretariat bagi mahasiswa bahasa Prancis. Selain itu, diskusi dalam kegiatan ini turut membahas peran Kecerdasan Artifisial dalam praktik penerjemahan dan memperkuat pemahaman antarbudaya antara Prancis dan Indonesia. Sesi lokakarya akan mengeksplorasi penulisan kreatif sebagai media penyebaran gagasan dan budaya, termasuk membahas penulisan kreatif sebagai ruang dialog antara warisan budaya dan kreasi kontemporer. Narasumber akan mengangkat referensi dari kekayaan budaya Indonesia seperti dongeng, cerita lisan, dan figur naratif.

Prof. Wening menekankan bahwa praktik menulis dalam lokakarya ini diharapkan dapat disesuaikan dengan konteks pendidikan sehingga mahasiswa dan siswa mampu meningkatkan keterampilan bahasa serta memperkuat rasa percaya diri dan keterbukaan terhadap dunia. Ia juga menyampaikan fakta bahwa antara tahun 1958 hingga 2019, hanya 54 novel Indonesia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis, namun dalam beberapa tahun terakhir terjadi peningkatan signifikan terkait jumlah proyek penerjemahan. Peluncuran buku Sato l’impie karya Eka Kurniawan di Prancis pada Mei 2026 menjadi salah satu contoh nyata perkembangan tersebut.

Lokakarya ini akan berlangsung dalam bahasa Prancis, kecuali pada hari terakhir yang menyediakan sesi penulisan kreatif berbahasa Inggris secara gratis dan terbuka untuk umum. Beberapa narasumber yang berpartisipasi antara lain Léonor Graser, Nathanael Frérot, Laddy Lesmana, Elisabeth Inandiak, Sajarwa, Dr. Hazlina Binti Abdul Hamid, Dr. Shobehah, Dr. Ahmad Kamil Bin Ghazali, Dr. Hayatul Cholsy, Merry Andriani, Jean Pascal Elbaz, Laure Leroy, dan Cécile Bellat. Kehadiran para pakar lintas negara ini diharapkan memperkuat kolaborasi serta pertukaran budaya dan pengetahuan antara Indonesia dan Prancis.

Lokakarya penulisan kreatif dan penerjemahan karya sastra Indonesia dan Prancis ini menjadi bagian penting dari upaya UGM dalam mendukung pengembangan keterampilan bahasa, diplomasi budaya, serta memperluas jaringan profesional mahasiswa dan pendidik di ranah internasional. Acara ini juga mempertegas posisi penerjemah dan juru bahasa yang tetap penting di tengah kemajuan teknologi, khususnya dalam menjaga sensitivitas budaya dan ketepatan komunikasi antarbangsa.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.