Media Kampung – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengumumkan pembangunan sekolah baru di Jonggol dengan biaya Rp7,7 miliar yang dibiayai sepenuhnya dari APBD 2026. Proyek ini diharapkan meningkatkan akses pendidikan bagi ribuan anak di wilayah tersebut.
Anggaran sebesar Rp7,7 miliar berasal dari alokasi khusus Dana Pendidikan Daerah yang ditetapkan dalam Rencana Kerja Pemerintah Provinsi. Dana tersebut dialokasikan setelah melalui proses perencanaan, evaluasi kebutuhan, dan persetujuan DPRD Jawa Barat.
Sekolah yang akan dibangun mencakup ruang kelas berstandar internasional, laboratorium sains, ruang komputer, serta fasilitas olahraga lengkap. Desain gedung mengadopsi konsep ramah lingkungan dengan pencahayaan alami dan sistem pendingin hemat energi.
Pembangunan dimulai pada awal Januari 2026 dan diperkirakan selesai dalam waktu delapan bulan. Kontraktor lokal dipilih melalui tender terbuka untuk memastikan transparansi dan kualitas pekerjaan.
Menurut Dedi Mulyadi, proyek ini merupakan bagian dari agenda revitalisasi infrastruktur pendidikan di Jawa Barat. Ia menekankan pentingnya pemerataan fasilitas sekolah di antara daerah perkotaan dan pedesaan.
“Kami berkomitmen menyalurkan dana APBD secara tepat guna untuk meningkatkan mutu pembelajaran,” ujar Dedi dalam konferensi pers di kantor Gubernur. “Sekolah ini akan menjadi contoh bagi wilayah lain dalam memanfaatkan sumber daya daerah.”
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Dr. H. Rini Widyastuti, menambahkan bahwa sekolah baru ini akan menampung maksimal 1.200 siswa. Ia menegaskan bahwa kurikulum akan difokuskan pada pengembangan kompetensi abad ke-21.
Warga setempat menyambut baik inisiatif tersebut dan menunggu manfaat langsung bagi anak-anak mereka. Ketua RW Jonggol, Budi Hartono, menyatakan harapan bahwa proyek selesai tepat waktu tanpa penundaan.
Pembangunan sekolah ini selaras dengan program pemerintah pusat yang menargetkan revitalisasi lebih dari 10.000 satuan pendidikan pada tahun 2026. Program tersebut mencakup renovasi, digitalisasi, dan penambahan fasilitas belajar.
Selain bangunan, proyek ini mencakup penyediaan peralatan belajar digital seperti Interactive Flat Panel dan komputer kelas. Setiap ruang kelas akan dilengkapi dengan jaringan internet berkecepatan tinggi.
Data resmi menunjukkan bahwa Jonggol selama lima tahun terakhir mengalami pertumbuhan penduduk sebesar 12 persen, meningkatkan tekanan pada fasilitas pendidikan yang ada. Sekolah lama di wilayah itu kini beroperasi melebihi kapasitas.
Dengan hadirnya sekolah baru, tingkat kepadatan kelas diproyeksikan turun menjadi 25 siswa per kelas, sesuai standar nasional. Hal ini diharapkan meningkatkan kualitas interaksi guru dan siswa.
Pengawasan proyek dilakukan oleh Inspektorat Daerah serta Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) untuk menjamin akuntabilitas. Laporan kemajuan akan dipublikasikan setiap triwulan.
Selain aspek fisik, pemerintah daerah juga menyiapkan program pelatihan guru berkelanjutan. Program tersebut akan melibatkan kerja sama dengan universitas lokal dan lembaga internasional.
Sejumlah sponsor korporasi daerah turut berkontribusi dalam penyediaan buku pelajaran dan perlengkapan laboratorium. Mereka menegaskan dukungan terhadap pengembangan sumber daya manusia di Jawa Barat.
Jika selesai tepat waktu, sekolah baru ini akan resmi dibuka pada bulan September 2026 menjelang tahun ajaran baru. Upacara peresmian diharapkan dihadiri oleh pejabat provinsi, tokoh masyarakat, dan orang tua siswa.
Dengan implementasi APBD yang transparan, proyek ini menjadi contoh penggunaan dana publik untuk kepentingan umum. Dedi Mulyadi menutup pernyataannya dengan optimisme bahwa inisiatif serupa akan terus diluncurkan di seluruh provinsi.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.






Tinggalkan Balasan