Media Kampung – 15 April 2026 | Kualitas literasi di Indonesia menunjukkan penurunan signifikan seiring dominasi media sosial dan faktor lingkungan yang kurang mendukung, menurut laporan terbaru yang diangkat oleh aktivis literasi.
Survei Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2023 mengindikasikan bahwa hanya 23 persen penduduk dewasa yang mengaku membaca buku secara rutin, menurun dua poin dibandingkan tahun sebelumnya.
Penurunan tersebut dipicu oleh lemahnya ekosistem literasi, di mana akses buku fisik terbatas dan program pendampingan membaca tidak merata di seluruh wilayah.
Aktivis literasi, Rina Suryani, menyoroti bahwa media sosial sering menggantikan waktu membaca dengan konsumsi konten singkat yang bersifat hiburan semata.
“Medsos memang memudahkan informasi, namun formatnya yang cepat dan visual mengurangi motivasi untuk membaca teks yang lebih panjang,” ujarnya dalam wawancara di Jakarta pada 12 April 2026.
Rina menambahkan bahwa lingkungan rumah yang tidak menyediakan ruang atau waktu khusus untuk membaca turut memperparah situasi.
Selain itu, faktor ekonomi juga berperan; keluarga berpendapatan rendah cenderung mengalokasikan anggaran lebih ke kebutuhan pokok daripada membeli buku.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, aktivis menyarankan tiga pilar utama: pendampingan intensif, dukungan keluarga, dan pemanfaatan media sosial secara edukatif.
Pendampingan melibatkan guru, relawan, dan tokoh masyarakat yang dapat mengorganisir klub membaca dan program literasi di sekolah.
Program tersebut diharapkan dapat menumbuhkan budaya membaca sejak usia dini melalui kegiatan yang menyenangkan dan interaktif.
Keluarga menjadi agen pertama dalam menumbuhkan minat baca; orang tua dianjurkan menyisihkan waktu bersama anak untuk membaca bersama atau mendiskusikan buku yang dibaca.
Penelitian Universitas Gadjah Mada 2021 menunjukkan bahwa anak-anak yang rutin dibacakan cerita oleh orang tua memiliki kemampuan literasi lebih tinggi dibandingkan yang tidak.
Media sosial, meskipun menjadi tantangan, juga dapat dimanfaatkan sebagai platform edukatif dengan mengintegrasikan kutipan buku, review singkat, dan tantangan membaca.
Rina mencontohkan kampanye “#Baca30Menit” yang berhasil menarik ribuan peserta di Instagram, mengajak pengguna mencatat aktivitas membaca selama 30 menit tiap hari.
Kampanye tersebut didukung oleh beberapa penerbit lokal yang menyediakan e‑book gratis bagi peserta, memperluas akses literasi digital.
Selain inisiatif daring, aktivis menekankan pentingnya kolaborasi dengan pemerintah untuk memperbaiki infrastruktur perpustakaan di daerah tertinggal.
Usulan kebijakan mencakup pendanaan khusus, pelatihan pustakawan, serta program mobil perpustakaan yang dapat menjangkau komunitas terpencil.
Dalam konteks global, UNESCO menilai bahwa literasi menjadi faktor kunci dalam pembangunan berkelanjutan, menegaskan bahwa penurunan literasi dapat memperlemah kemampuan masyarakat menghadapi tantangan ekonomi dan sosial.
Dengan mengimplementasikan solusi yang terintegrasi, diharapkan tren penurunan kualitas literasi dapat dibalik dalam lima tahun ke depan, menciptakan generasi yang lebih kritis dan kreatif.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.














Tinggalkan Balasan