Media Kampung – Semester pertama 2026 mencatatkan gelombang penawaran umum perdana saham (IPO) di pasar modal Indonesia. Beberapa perusahaan dari berbagai sektor, termasuk produsen makanan, kesehatan, hiburan, hingga tambang, ramai-ramai melantai di bursa. Namun di balik euforia tersebut, sebagian besar calon emiten mengalokasikan dana hasil IPO untuk melunasi utang yang jatuh tempo.

Salah satu emiten yang akan IPO adalah PT Niramas Utama Tbk (JELI), produsen produk Inaco. Dalam prospektusnya, JELI membukukan laba bersih Rp38,37 miliar pada 2025, naik 208,93% dari tahun sebelumnya Rp12,42 miliar. Peningkatan laba terjadi meski pendapatan turun 4,49% menjadi Rp753,05 miliar. Manajemen menjelaskan penurunan pendapatan akibat penghentian produk dengan margin rendah, sehingga fokus pada produk yang lebih menguntungkan.

Direktur Niramas Utama, Adhi S. Lukman, menyatakan bahwa evaluasi portofolio berdampak positif terhadap kinerja perseroan menjelang IPO. Hal itu tercermin dari peningkatan EBITDA sebesar 28,14% dan Return on Equity (ROE) yang naik menjadi 26,82% pada 2025.

Sementara itu, PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk (RANS), milik Raffi Ahmad dan Nagia Slavina, juga bersiap IPO. RANS menawarkan 2,25 miliar saham atau 20,02% dari modal ditempatkan dengan harga Rp135–Rp170 per saham. Jika terserap semua, RANS berpotensi mengantongi dana segar hingga Rp429,25 miliar. PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk ditunjuk sebagai penjamin pelaksana emisi efek.

Di sisi lain, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) mencatatkan IPO di Bursa Hong Kong dengan oversubscribe 11 kali. Minat investor terutama berasal dari investor jangka panjang dan perusahaan asuransi asal China. Harga penawaran ditetapkan sebesar HKD26,60 per HDR pada 24 Juni 2026, dan perdagangan dimulai pada 26 Juni 2026. EMAS diperkirakan meraup dana hingga US$500 juta atau sekitar Rp8,94 triliun.

Namun, tidak semua berita IPO berjalan mulus. Di tingkat global, IPO SpaceX yang sensasional pada 12 Juni 2026 sempat melambungkan kekayaan Elon Musk menjadi US$1,32 triliun. Namun, kekhawatiran terhadap profitabilitas jangka panjang AI dan suku bunga tinggi memicu aksi jual saham teknologi. Saham SpaceX anjlok lebih dari 30% dari puncaknya, membuat kekayaan Musk turun menjadi US$957 miliar dan ia kehilangan status triliuner.

Kembali ke dalam negeri, sejumlah calon emiten seperti PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX) secara gamblang menyatakan akan menggunakan dana IPO untuk melunasi utang. JECX mengalokasikan Rp40 miliar untuk membayar pinjaman ke Bank Central Asia (BCA), Rp100 miliar ke Bank HSBC Indonesia, serta memberikan pinjaman ke anak usahanya untuk membayar utang. Hal ini menunjukkan bahwa IPO tidak selalu untuk ekspansi, tetapi juga sebagai alat restrukturisasi keuangan.

Gelombang IPO semester I 2026 mencerminkan optimisme pasar, tetapi juga mengingatkan investor untuk mencermati penggunaan dana dan prospek jangka panjang perusahaan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.