Media Kampung – Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali diramaikan dengan gelaran bazar saham IPO pada Juni 2026. Setelah vakum cukup lama, sejumlah emiten dari berbagai sektor melantai di bursa. Yang menarik, setidaknya empat saham IPO kali ini terafiliasi dengan konglomerat besar, yaitu Grup Djarum, Emtek (EMTK), Prajogo Pangestu, Anthoni Salim, dan Pieter Tanuri. Keempat saham tersebut adalah BACH, JECX, RANS, dan PRDL. Berikut prospek masing-masing saham.

BACH: Genset dan Infrastruktur Telekomunikasi di Bawah Grup Djarum

PT BACH Multi Sukses Investama (BACH) bergerak di bidang penjualan dan sewa genset, serta jasa konstruksi dan pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi. Sejak Juli 2023, perusahaan ini berada di bawah kendali PT Global Telekomunikasi Prima yang terafiliasi dengan Grup Djarum dan TOWR. Pendapatan dari penjualan genset tumbuh agresif 93% pada 2025 menjadi Rp853 miliar, melampaui pendapatan dari konstruksi dan pemeliharaan yang turun 4,4% menjadi Rp754 miliar. Grup Djarum disebut akan meningkatkan kepemilikan di BACH hingga 51% melalui pembelian saham di pasar negosiasi maksimal lima hari setelah listing. Potensi pertumbuhan BACH juga terkait dengan rencana ekspansi TOWR ke energi baru terbarukan (EBT) berupa PLTS untuk menara telekomunikasi off grid.

JECX: Rumah Sakit Mata JEC di Bawah Naungan SAME (Grup EMTK)

PT JECX mengelola rumah sakit mata JEC. Sejak 2023, PT SAME (bagian dari Grup EMTK) telah memegang 28% saham JECX. Dalam IPO ini, JECX menawarkan 487 juta lembar saham baru, dengan harga Rp1.200–Rp1.400 per saham. Dana yang dihimpun sekitar Rp683 miliar, namun yang masuk ke perseroan hanya Rp455 miliar karena sisanya merupakan divestasi pemegang saham. Katalis utama JECX adalah pengembangan JEC Bali Sanur di Kawasan Ekonomi Khusus Kesehatan Sanur yang ditargetkan beroperasi pada 2027, sejalan dengan potensi pasar medical tourism Indonesia yang diperkirakan mencapai USD9,6 miliar pada 2033.

RANS: Kompleksitas Pemegang Saham dan Kontroversi Dividen

PT RANS memiliki struktur pemegang saham yang unik, melibatkan Raffi Ahmad, PT Indonesia Entertainment Grup (IEG) milik EMTK (terafiliasi Anthoni Salim), Kaesang Pangarep, serta Pieter Tanuri dan Anthoni Salim melalui PT Ekonomi Baru Investasi Teknologi (terkait BOLA). IPO RANS menargetkan dana Rp429 miliar untuk ekspansi, termasuk pelunasan utang, pembangunan wahana Cipungland, konser, akuisisi saham PT Rans Kosmetika Indonesia Slavina, dan pembentukan entitas AI. Namun, terdapat kekhawatiran karena RANS baru saja membagikan dividen jumbo Rp167 miliar (298% dari laba 2025) sebelum IPO, serta penurunan pendapatan dan laba bersih dalam dua tahun terakhir (laba 2024 naik karena divestasi klub bola).

PRDL: Jejak Prajogo Pangestu di Bisnis Diagnostik

PT PRDL merupakan perusahaan diagnostik yang melakukan IPO dengan menawarkan 522 juta lembar saham (30% dari total) pada harga Rp100–Rp120 per saham, dengan dana maksimal Rp62 miliar. Prajogo Pangestu melalui TPIA tercatat sebagai pemegang saham minoritas (1,28%) di PRDA, yang merupakan induk tidak langsung PRDL. PRDL memiliki hubungan strategis dengan Diasys Diagnostic System GmbH (pemegang 10% saham) melalui kontrak lisensi produksi reagen hingga 2033. Dana IPO akan digunakan untuk pelunasan utang, belanja modal, dan modal kerja.

Strategi Menghadapi Bazar IPO Juni 2026

Bagi investor ritel, penting mencermati beberapa hal: proporsi supply saham baru versus divestasi, rekam jejak penjamin emisi, pengendali akhir, dan jadwal IPO yang berpotensi bentrok. Dengan dana di bawah Rp100 juta, investor bisa menyebar ke beberapa saham IPO untuk mendapatkan porsi yang hampir sama. Untuk dana di atas Rp100 juta, sebaiknya fokus pada saham dengan jadwal berbeda. Analisis fundamental masing-masing emiten tetap menjadi kunci keputusan investasi.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.