Media Kampung – Likupang, salah satu destinasi prioritas nasional dalam Rencana Induk Destinasi Pariwisata Nasional Manado-Likupang (Perpres Nomor 16 Tahun 2024), kini berada di persimpangan krusial. Mahasiswa Doktoral Ilmu Pemerintahan IPDN yang melakukan Studi Strategis ke Minahasa Utara menegaskan bahwa pengembangan kawasan ini tidak boleh sekadar mengejar jumlah kunjungan, melainkan harus menjaga jiwa sosial, budaya, dan ekologi masyarakat pesisir.

Dalam kunjungan akademik sebelumnya ke Fudan University, Shanghai, para mahasiswa belajar tentang tata kelola digital dan kebijakan berbasis bukti. Namun, Likupang memberikan pelajaran berbeda: bahwa pembangunan pariwisata kelas dunia harus berakar pada keseimbangan antara kemajuan dan kemanusiaan. Kawasan ini memiliki potensi besar sebagai bagian dari Coral Triangle, dengan Bunaken sebagai ikon bahari, KEK Likupang sebagai motor investasi, serta kekayaan budaya Minahasa dan desa wisata.

Risiko besar mengintai jika pariwisata tumbuh tanpa kendali. Pengalaman Bali dengan kepadatan, Labuan Bajo dengan kekhawatiran ekologis, dan Borobudur yang harus menjaga daya dukung situs menjadi pelajaran berharga. Likupang tidak boleh menjadi destinasi yang hanya menjual hotel dan pantai, melainkan harus menawarkan pengalaman otentik, kedalaman budaya, dan keindahan ekologi yang terjaga.

Tiga agenda besar harus dijawab: ekologis, sosial, dan tata kelola. Daya dukung destinasi harus dihitung, sampah dikelola, terumbu karang dilindungi. Masyarakat lokal—nelayan, UMKM, pemandu wisata, dan komunitas adat—harus menjadi pelaku utama, bukan penonton. Destination Management Organization (DMO) yang kuat, berbasis data, dan lintas sektor diperlukan untuk mengatur arus kunjungan, menjaga kualitas layanan, serta memastikan pembangunan tidak merusak lingkungan.

Konsep Integrated Manado-Bunaken-Likupang Tourism Corridor menjadi kunci, menghubungkan akses, atraksi, amenitas, dan ekonomi lokal. Teknologi dan investasi harus berpihak pada masyarakat, bukan justru menciptakan ketimpangan. Likupang harus diarahkan pada high-value tourism: wisatawan yang tinggal lebih lama, membelanjakan lebih banyak, dan menghargai budaya lokal.

Budaya Minahasa harus menjadi jiwa destinasi. Cerita masyarakat, kuliner, tradisi pesisir, dan keramahan lokal adalah pembeda yang tidak bisa ditiru. Pariwisata yang baik bukan hanya mendatangkan orang, tetapi membuat mereka datang dengan hormat, tinggal nyaman, dan pulang membawa cerita baik. Lebih penting lagi, masyarakat lokal harus merasakan hidup lebih baik, bukan lebih terdesak.

Likupang hari ini adalah ujian besar bagi tata kelola pembangunan Indonesia. Pilihan ada pada kebijakan saat ini: apakah akan menjadi contoh keberhasilan pariwisata berkelanjutan, atau tergelincir menjadi destinasi yang ramai sesaat lalu rusak oleh sampah, konflik ruang, dan ketimpangan. Seperti mutiara yang hanya berharga bila dijaga cangkangnya, laut, budaya, dan masyarakat Likupang adalah cangkang yang harus dilindungi.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.