Media Kampung – Timnas Iran harus mengubur mimpi melaju ke babak gugur Piala Dunia 2026 setelah tersingkir secara dramatis pada fase grup. Kepastian itu didapat setelah Aljazair dan Austria bermain imbang 3-3 pada laga terakhir Grup J, Minggu (28/6/2026) WIB. Hasil tersebut membuat Austria lolos sebagai runner-up grup, sementara Aljazair mengamankan tiket sebagai salah satu tim peringkat ketiga terbaik dengan empat poin, unggul satu poin dari Iran yang hanya mengoleksi tiga poin di Grup G.
Iran sebenarnya masih memiliki peluang besar untuk lolos andai gol kemenangan mereka atas Mesir pada laga terakhir Grup G disahkan. Pertandingan yang berlangsung di Seattle, Sabtu (27/6/2026), itu berakhir imbang 1-1. Sempat tertinggal lewat gol Mahmoud Saber pada menit kelima, Iran menyamakan kedudukan melalui Ramin Rezaeian di menit ke-14. Pada masa injury time, Shoja Khalilzadeh berhasil menjebol gawang Mesir dalam situasi kemelut. Namun, wasit menganulir gol tersebut setelah VAR mendeteksi Khalilzadeh berada dalam posisi offside seujung kukunya. Pelatih Iran Amir Ghalenoei mengakui keputusan itu adil meski sangat menyakitkan. “Hanya karena milimeter, gol kami dianulir. Itu memang adil, tetapi tetap menyakitkan,” ujarnya dalam konferensi pers.
Kekalahan dramatis ini memicu reaksi dari media internasional. Forbes menjadi salah satu media yang mendesak FIFA dan IFAB untuk mengubah aturan offside. Menurut mereka, insiden offside milimeter yang menggagalkan gol Iran menunjukkan bahwa aturan saat ini terlalu ketat dan perlu direvisi agar lebih adil. Sorotan juga tertuju pada teknologi VAR yang dinilai terlalu kaku dalam menafsirkan posisi offside.
Selain masalah teknis, kapten Iran Mehdi Taremi melontarkan kritik keras terhadap FIFA. Ia menilai penyelenggaraan Piala Dunia 2026 tidak adil bagi timnya. Taremi mengungkapkan bahwa tim Iran menghadapi berbagai kendala sejak awal turnamen, termasuk harus memindahkan base camp dari Arizona ke Tijuana, Meksiko, akibat situasi perang dengan Amerika Serikat sebagai salah satu tuan rumah. “Ini Piala Dunia yang bencana, bencana,” kata Taremi kepada Anadolu. Ia juga kecewa karena Presiden FIFA Gianni Infantino yang sempat mengunjungi ruang ganti tim Iran setelah pertandingan pertama dan menjanjikan perbaikan, namun hingga akhir fase grup tidak ada perubahan berarti.
Iran menjadi salah satu dari tujuh wakil Asia (AFC) yang gugur di fase grup Piala Dunia 2026. Lima di antaranya finis di posisi terbawah grup masing-masing. Meski tak terkalahkan di Grup G dengan tiga hasil imbang, Iran gagal lolos karena selisih poin. Sementara itu, tiga negara yang secara mengejutkan tersingkir di babak grup adalah Korea Selatan, Uruguay, dan Turkiye.
Hingga berita ini diturunkan, FIFA maupun IFAB belum memberikan tanggapan resmi terkait desakan perubahan aturan offside. Namun, insiden yang menimpa Iran menjadi bahan diskusi hangat di kalangan pengamat sepak bola internasional.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan