Media Kampung – Penerapan aturan jeda minum atau hydration break di Piala Dunia 2026 terus memicu perdebatan sengit di kalangan penggemar sepak bola. Kebijakan yang memberikan waktu istirahat sejenak pada menit ke-22 setiap babak ini dianggap menguntungkan bagi pemain di cuaca panas, namun banyak suporter menilai langkah tersebut sebagai bentuk komersialisasi dan ‘Amerikanisasi‘ olahraga paling populer di dunia.

Kritik Suporter: Hanya untuk Iklan dan Merusak Ritme

Sejumlah pendukung timnas Inggris yang menyaksikan pertandingan secara langsung meluapkan kekecewaannya. Mereka mencurigai jeda minum hanyalah dalih untuk menayangkan lebih banyak iklan komersial. “Jeda minum ini jelas hanya untuk satu tujuan, dan itu adalah uang besar untuk iklan,” ujar seorang suporter Inggris kepada BBC Sport. Ia menambahkan bahwa di stadion ber-AC, jeda tersebut tidak diperlukan dan hanya menghentikan ritme permainan. “Ini seperti Amerikanisasi sepak bola di sini. Mengubah permainan menjadi empat babak,” keluh penonton lain.

Dukungan dari Pemain: Penting untuk Kesejukan

Di sisi lain, kapten Belanda Virgil van Dijk justru menyambut positif jeda minum. “Menurut saya, jeda minum itu sangat menarik. Saya rasa setiap kali jeda iklan itu agak, bukan sesuatu yang saya sukai,” papar Van Dijk. Ia mengakui bahwa jeda tersebut memberikan kesempatan bagi pemain untuk melepas dahaga, terutama di stadion tanpa AC atau saat suhu udara sangat panas. Van Dijk menegaskan bahwa aspek kesejahteraan atlet harus menjadi prioritas.

Usulan Penamaan Ulang: ‘Waktu Rehat’ Agar Tidak Kontroversial

Beberapa suporter mencoba melihat sisi positif dengan memberikan usulan kreatif. “Jika ini tidak disebut jeda minum, dan disebut waktu rehat, maka semua orang tidak akan melewatkan gol,” ujar seorang penggemar. Ia berpendapat bahwa kompromi bisa dicapai: pihak penyiar mendapatkan iklan, sementara penonton tetap bisa menikmati pertandingan tanpa gangguan berarti. Namun, kekhawatiran bahwa jeda ini akan menjadi standar permanen tetap menghantui. “Saya harap ini tidak menjadi bagian tak terpisahkan dari sepak bola Inggris karena itu akan benar-benar menghancurkannya,” harap seorang suporter usai menyaksikan kekalahan Kroasia di Stadion Dallas.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keputusan resmi dari FIFA mengenai keberlanjutan kebijakan jeda minum di turnamen mendatang. Perdebatan antara kebutuhan fisiologis pemain dan tradisi sepak bola yang mengalir tanpa henti masih terus berlangsung.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.