Media Kampung – Pemerintah Indonesia berkomitmen mencetak 500 ribu Pekerja Migran Indonesia (PMI) terampil hingga tahun 2029. Target ini diwujudkan melalui kerja sama antara Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) dan Ikatan Keluarga Alumni Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (IKA Untirta).

Menteri P2MI Mukhtarudin dan Ketua Umum IKA Untirta Lamhot Sinaga menandatangani nota kesepahaman (MoU) di Kantor Kementerian P2MI, Jakarta, pada Kamis, 18 Juni 2026. MoU ini mencakup penguatan kompetensi, edukasi migrasi aman, serta pemberdayaan pekerja migran dan keluarganya.

Fokus pada Peningkatan Kapasitas dan Pelindungan

Menurut Mukhtarudin, penguatan kapasitas calon pekerja migran menjadi prioritas agar tenaga kerja Indonesia mampu bersaing di pasar global, terutama di sektor formal. Kerja sama dengan IKA Untirta difokuskan pada peningkatan kapasitas, sosialisasi, dan edukasi tentang migrasi aman.

Program ini merupakan bagian dari implementasi SMK Go Global yang menargetkan 500 ribu tenaga kerja kompeten untuk kebutuhan internasional pada 2026–2029. “Kita memperkuat pelindungan sekaligus meningkatkan kapasitas pekerja migran agar mampu memasuki pasar kerja global,” ujar Mukhtarudin.

Peran IKA Untirta dalam Mendukung Target Nasional

Lamhot Sinaga menyatakan kesiapan IKA Untirta untuk berperan aktif. Organisasi alumni ini memiliki jaringan dari berbagai disiplin ilmu, seperti teknik, bahasa, dan pendidikan, yang dibutuhkan pasar global. “Potensi ini dapat disinergikan untuk mendukung program peningkatan kapasitas pekerja migran Indonesia,” kata Lamhot.

IKA Untirta juga memiliki alumni yang bekerja di berbagai negara dan sektor industri. Pengalaman mereka menjadi modal penting dalam edukasi dan pendampingan calon PMI. Lamhot menegaskan, kerja sama ini harus diwujudkan dalam program nyata, bukan sekadar dokumen.

Ekosistem Pelindungan dari Hulu ke Hilir

Kolaborasi ini membangun sinergi antara pemerintah pusat, daerah, perguruan tinggi, dan dunia industri. Tujuannya memperkuat ekosistem pelindungan pekerja migran sejak sebelum keberangkatan hingga kembali ke tanah air. IKA Untirta siap berkontribusi melalui pelatihan, edukasi, penyebarluasan informasi, dan pemberdayaan keluarga PMI.

Lamhot berharap semakin banyak PMI yang berangkat secara prosedural, memiliki keterampilan sesuai kebutuhan global, dan mendapatkan pelindungan optimal. “Harapan kami, pekerja migran Indonesia tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi menjadi sumber daya manusia unggul yang mampu bersaing di tingkat global,” ujarnya.

Dengan dukungan IKA Untirta, pemerintah optimistis target 500 ribu PMI terampil hingga 2029 dapat tercapai, sekaligus meningkatkan kualitas dan pelindungan tenaga kerja Indonesia di luar negeri.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.