Media Kampung – PT Niramas Utama Tbk. (JELI) resmi meluncurkan penawaran umum perdana (IPO) saham pada 2026. Sebagai emiten kedua di tahun ini, JELI menawarkan saham di sektor consumer goods. Sebelum kamu memutuskan untuk ikut memesan saham IPO-nya, penting untuk memahami lima fakta kunci yang akan memengaruhi prospek investasi. Berikut ulasan lengkapnya.

1. Harga IPO dan Jumlah Saham yang Ditawarkan

JELI menawarkan sebanyak 350 juta lembar saham baru, setara dengan 25,93% dari total saham setelah IPO. Rentang harga yang ditetapkan adalah Rp900 hingga Rp1.120 per saham. Dengan demikian, target dana yang dihimpun mencapai sekitar Rp392 miliar. Saham JELI dikuasai oleh Ham Pak Japyusuf Hamdani melalui PT Supra Pangan Lestari, yang memiliki 89% saham PT Niramas Utama Internasional, pengendali JELI.

2. Penggunaan Dana IPO Mayoritas untuk Ekspansi

Sebesar 51,04% atau Rp191 miliar dari dana IPO akan dialokasikan ke anak usaha PT Niramas Pandaan Sejahtera. Rencana penggunaan dana meliputi pembelian satu lini mesin Tannis 400 compact (Rp106 miliar), satu lini extruder machine 450kh (Rp61 miliar), serta berbagai peralatan produksi dan infrastruktur seperti reachtruck, deepwell, kompresor, mesin slurry seasoning, dan sirkulasi udara. Sebagian dana juga digunakan untuk penambahan mesin mini jelly, kenaikan daya listrik, mesin crusher, boiler steam, dan racking system. Seluruh proses pengadaan masih dalam tahap negosiasi dan ditargetkan selesai paling lambat kuartal IV/2027.

Selanjutnya, 18,36% atau Rp69 miliar digunakan untuk pembelian mesin produksi di pabrik Bekasi, termasuk multi machine, tank double jacket, backwash system, tata udara, racking otomatis, jelly filling machine, automatic flavour, conveyor cooling, dan renovasi gudang.

Sisanya, sekitar 10,63% atau Rp40 miliar, akan digunakan untuk membayar sebagian pokok utang jangka pendek (KMK 1 dan KMK 2). Setelah pelunasan, JELI masih memiliki utang KMK senilai Rp54 miliar yang jatuh tempo pada 29 Januari 2027.

3. JELI adalah Pemimpin Pasar Produk Jelly

JELI memiliki tiga kategori produk utama: jelly, nata de coco, dan pudding. Di segmen jelly, perusahaan menguasai pangsa pasar 49,57%, menjadikannya pemimpin pasar. Untuk nata de coco, market share mencapai 19,87%, dan pudding sebesar 16,01%. Posisi dominan ini menjadi salah satu daya tarik utama bagi investor.

4. Pendapatan Menurun, tetapi Laba Bersih Melesat

Meski pendapatan JELI turun dalam dua tahun terakhir—pada 2024 turun 6,02% menjadi Rp788 miliar dan pada 2025 turun 4,49% menjadi Rp753 miliar—laba bersih justru melonjak signifikan. Pada 2024, laba bersih naik 10.000% menjadi Rp11,63 miliar, dan pada 2025 naik 254% menjadi Rp39 miliar. Alhasil, net profit margin meningkat dari 0,2% (2023) menjadi 1,48% (2024) dan 5,18% (2025).

Pertumbuhan laba ini didorong oleh efisiensi, bukan kenaikan penjualan. JELI mengurangi produk yang kurang menguntungkan sehingga beban pokok penjualan turun 12,58% pada 2025, sementara pendapatan hanya turun 4%. Selain itu, harga bahan baku yang menurun sepanjang 2025 dan kenaikan harga jual produk pada akhir 2024 turut mendongkrak margin.

5. Valuasi Premium dan Risiko yang Perlu Diwaspadai

Saham JELI ditawarkan dengan price-to-earnings (PE) ratio sekitar 31–38 kali berdasarkan harga IPO dan jumlah saham pasca-IPO. Angka ini tergolong premium untuk saham consumer goods. Beberapa risiko yang perlu dicermati:

  • Perusahaan berada dalam fase matang, sehingga ruang pertumbuhan lebih mengandalkan efisiensi daripada ekspansi penjualan.
  • Penurunan penjualan dua tahun berturut-turut, meskipun disebabkan oleh penghentian produk margin rendah.
  • Tingkat debt to equity ratio (DER) mencapai 1,15 kali, meskipun setelah pembayaran utang dari dana IPO turun menjadi 0,87 kali. Interest coverage ratio (ICR) masih aman di level 4 kali.

Dengan memahami lima fakta ini, kamu dapat mengevaluasi apakah saham JELI layak masuk dalam portofolio. Pastikan untuk mempertimbangkan prospek bisnis, valuasi, dan risiko sebelum mengambil keputusan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.