Media Kampung – PT Kereta Api Indonesia (KAI) mengumumkan bahwa 84 korban kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur telah dipulangkan ke rumah masing‑masing, sementara 17 penumpang masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

Kecelakaan terjadi pada Senin malam, 27 April 2026, ketika satu rangkaian KRL Commuter Line menabrak pintu gerbang di Stasiun Bekasi Timur. Insiden tersebut menimpa total 107 penumpang, termasuk korban luka ringan, luka berat, dan penumpang yang sempat terperangkap di dalam kereta.

Menurut pernyataan Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, tim medis dan relawan segera mengevakuasi korban ke fasilitas kesehatan terdekat. “Kami terus memantau kondisi para penumpang secara berkala dan berkoordinasi dengan rumah sakit serta keluarga untuk memastikan proses pemulihan berjalan lancar,” ujarnya dalam keterangan tertulis kepada media.

Data terbaru yang dirilis KAI pada 6 Mei 2026 menunjukkan 90 penumpang telah mendapatkan izin kembali ke rumah setelah melalui evaluasi medis. Dari jumlah tersebut, 84 dianggap cukup stabil untuk pulang, sedangkan sisanya 6 masih berada di rumah sakit namun tidak memerlukan perawatan intensif. Sementara itu, 17 korban masih dirawat di unit perawatan intensif (ICU) karena kondisi luka yang lebih serius.

KAI juga menyediakan layanan klaim reimbursement biaya medis. Penumpang yang memilih pengobatan mandiri dapat mengajukan penggantian dana dengan melampirkan bukti perjalanan, identitas, kuitansi medis, dan resume medis. Proses klaim diperkirakan selesai dalam 21 hari kerja setelah dokumen lengkap diterima.

Selain bantuan medis, KAI membuka posko pendampingan trauma healing di Stasiun Bekasi Timur yang akan beroperasi hingga 11 Mei 2026. Posko tersebut menawarkan layanan konseling psikologis bagi korban dan keluarga yang membutuhkan. “Fokus kami bukan hanya pada penyembuhan fisik, tetapi juga pemulihan mental para penyintas,” tambah Anne Purba.

Petugas keamanan juga berhasil mengamankan 118 barang milik penumpang yang tertinggal saat kejadian. Dari jumlah tersebut, 75 barang telah dikembalikan kepada pemiliknya, sementara 43 barang masih disimpan di layanan Lost and Found untuk diproses selanjutnya.

Latar belakang insiden ini masih dalam penyelidikan. Pihak kepolisian dan tim investigasi KAI mencatat bahwa faktor teknis dan prosedur operasional menjadi fokus utama. Hingga kini, tidak ada laporan penyalahgunaan atau tindakan kriminal terkait kecelakaan.

Para korban yang masih dirawat intensif meliputi dua orang dengan luka patah tulang kompleks, tiga orang dengan cedera kepala, dan dua orang dengan kondisi pernapasan kritis. KAI memastikan bahwa rumah sakit tempat perawatan telah dilengkapi fasilitas ICU dan tim medis spesialis.

KAI menegaskan komitmen untuk meningkatkan standar keselamatan operasional, termasuk inspeksi rutin perangkat keras, pelatihan kru, dan peninjauan ulang prosedur darurat. “Kami akan belajar dari kejadian ini dan menerapkan perbaikan yang diperlukan untuk mencegah hal serupa di masa depan,” kata Anne Purba.

Sejauh ini, keluarga korban menyatakan rasa terima kasih atas dukungan medis dan psikologis yang diberikan. Salah satu keluarga menyebut, “Kami merasa dibantu secara menyeluruh, mulai dari perawatan medis hingga bantuan administratif untuk klaim biaya.”

Dengan posko pendampingan yang masih beroperasi, KAI berharap proses pemulihan seluruh korban dapat selesai dalam beberapa minggu ke depan, sambil terus memantau kondisi kesehatan mereka secara berkala.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.