Media Kampung – Bupati Nganjuk, Marhaen Djumadi, menegaskan pentingnya menghindari kekerasan anak dan menjaga reputasi digital pada kegiatan workshop yang digelar oleh Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (PPPA) di SMA Baitul Izzah pada 5‑6 Mei 2024.

Kegiatan tersebut merupakan respons Pemerintah Kabupaten Nganjuk terhadap meningkatnya kasus kekerasan di kalangan remaja, terutama yang melibatkan interaksi di media sosial dan lingkungan sekolah.

Dalam sambutannya pada Rabu, 6 Mei, Kang Marhaen mengingatkan bahwa perbuatan melawan hukum dapat mencatat nama pelaku dalam jejak digital yang bersifat permanen.

“Kadang‑kadang sesama teman bisa terjadi masalah. Kita harus hati‑hati, apalagi kalau sudah berhadapan dengan perbuatan melawan hukum, nama kita bisa tercatat dan jejak digitalnya akan selalu ada,” ujarnya.

Bupati menekankan bahwa era digital memperluas ruang pertemanan remaja, namun juga menambah risiko penyebaran perilaku negatif bila tidak disertai edukasi hukum dan etika yang memadai.

Workshop Psikoedukasi yang diselenggarakan PPPA menggabungkan materi psikologis tentang pengendalian emosi, pengetahuan hukum terkait kekerasan, serta latihan praktis dalam mengelola identitas daring.

Para peserta, mayoritas siswa SMA, diberikan contoh kasus nyata dan diajak berdiskusi mengenai cara mengidentifikasi situasi berbahaya serta melaporkan tindakan kekerasan kepada pihak berwenang.

Kang Marhaen menambahkan, “Penting bagi para pelajar untuk memiliki kontrol diri yang baik, mampu menyaring pergaulan, serta berani mengambil keputusan yang positif demi masa depan yang cerah.”

Ia juga memuji pendekatan psikoedukasi PPPA, menyebutnya sebagai strategi komprehensif yang tidak hanya menyasar pengetahuan, tetapi juga aspek emosional dan sosial remaja.

Ia menutup dengan harapan bahwa pelajar dapat menjadi agen perubahan aktif, mencegah segala bentuk kekerasan, serta membangun budaya saling menghargai dan peduli antar sesama.

Workshop berlanjut dengan evaluasi akhir, di mana peserta diminta menuliskan rencana aksi pribadi untuk menjaga nama baik di dunia digital dan mengurangi potensi konflik di lingkungan sekolah.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.