Media Kampung – Jusuf Kalla menerima delegasi Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Perkumpulan Alumni Mahasiswa Republik Indonesia (PATRIA PMKRI) dalam dialog merawat kebangsaan yang diadakan di kediamannya, Jakarta Selatan, pada 27 April 2026. Pertemuan tersebut bertujuan menanggapi dugaan penistaan agama yang muncul setelah video pidato Kalla di Masjid UGM disunting.
Staf pribadi Kalla, Dewi Meifira, mengonfirmasi agenda pertemuan pada hari Senin, 27 April 2026, pukul 14.00 WIB, setelah sebelumnya dijadwalkan pada 15 April 2026. Penundaan terjadi karena Kalla sedang berada di luar negeri pada saat itu.
Surat undangan resmi dari DPP PATRIA PMKRI telah dikirim pada awal April, menekankan pentingnya dialog untuk merawat kebangsaan. Pihak Kalla menyampaikan permohonan maaf atas ketidakhadiran pada pertemuan sebelumnya.
Dewi Meifira menuturkan, “Betul, Pak. Besok (Senin) pukul 14.00 WIB kami siap menyambut delegasi DPP PATRIA,” melalui pesan WhatsApp pada 26 April 2026. Pernyataan tersebut menegaskan komitmen Kalla untuk mendengarkan aspirasi organisasi alumni.
Ketua Umum DPP PATRIA, Agustinus Tamo Mbapa, mengapresiasi respons cepat Kalla dan menekankan harapan agar pernyataan kontroversial dapat dijelaskan secara utuh. Ia menambahkan, “Dialog ini menjadi sarana penting untuk memperkuat persatuan bangsa.”
Gustaf, panggilan akrab Agustinus, menekankan bahwa dialog akan disampaikan dengan semangat ajaran Katolik yang menolak kekerasan. Menurutnya, pendekatan ini diharapkan meredam ketegangan dan memperkuat nilai-nilai kebangsaan.
Pertemuan berlangsung di rumah pribadi Kalla, Jalan Brawijaya 6, Kebayoran Baru, dengan hadirnya Sekjen Septyarini, Wakil Ketua Maksimus Ramses Lalongkoe, dan Ketua Bidang Internal Friederich Batari. Suasana tetap kondusif dan penuh rasa hormat.
Sebagai simbol kebersamaan, Agustinus menyerahkan plakat kepada Kalla sebagai cendera mata pertemuan. Plakat tersebut menampilkan tulisan ‘Merawat Kebangsaan’ sebagai komitmen bersama.
Kontroversi berawal dari video pidato Kalla di Masjid UGM pada 5 Maret 2026 yang dipotong sehingga menimbulkan persepsi menyinggung doktrin agama. Beberapa ormas Kristen melaporkan kasus tersebut ke kepolisian dengan tuduhan penistaan agama.
PATRIA menegaskan bahwa pidato Kalla sebenarnya menekankan perdamaian, menolak kekerasan, serta menyoroti peran Kalla dalam rekonsiliasi konflik Poso dan Ambon dua puluh lima tahun lalu. Pernyataan tersebut didukung oleh catatan sejarah kontribusi Kalla dalam proses perdamaian nasional.
Agustinus meminta pihak yang mengajukan laporan agar segera mencabutnya, karena dianggap didasarkan pada video editan yang menyesatkan. Ia menekankan bahwa dialog ini harus menghindari polarisasi politik dan menjaga persatuan.
Dialog berakhir dengan kesepakatan bersama untuk terus menguatkan kebangsaan melalui komunikasi terbuka dan saling menghormati. Kondisi terkini menunjukkan tidak ada tindakan hukum lebih lanjut, sementara upaya pemulihan kepercayaan publik terus digencarkan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan