Media Kampung – Tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini, hari peringatan yang menandai kelahiran R.A. Kartini, tokoh emansipasi perempuan Indonesia; pada hari yang sama, dunia juga merayakan beberapa peringatan internasional yang menyoroti kreativitas, inovasi, dan konservasi.

Hari Kartini ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 108 Tahun 1964, yang secara resmi menjadikan tanggal 21 April sebagai moment untuk mengenang perjuangan Kartini dalam memperjuangkan hak pendidikan dan kebebasan bagi perempuan pada masa penjajahan.

Menurut Prof. Tjandra Yoga Aditama, mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, peringatan ini dapat dijadikan titik refleksi atas tujuh isu kesehatan perempuan yang masih menjadi tantangan global, termasuk kematian maternal, kehamilan remaja, dan kekerasan berbasis gender.

Data WHO tahun 2023 menunjukkan bahwa lebih dari 700 perempuan meninggal setiap hari akibat komplikasi kehamilan dan persalinan yang dapat dicegah, artinya satu kematian maternal terjadi setiap dua menit di seluruh dunia.

Kehamilan remaja tetap menjadi masalah serius; pada tahun 2019 diperkirakan terdapat 21 juta kehamilan pada perempuan berusia 15‑19 tahun, dengan setengahnya tidak direncanakan, meningkatkan risiko kesehatan bagi ibu muda dan anaknya.

Selain itu, Prof. Tjandra menekankan tingginya angka kekerasan berbasis gender dan rendahnya akses layanan kesehatan reproduksi di banyak wilayah, yang memperparah kesenjangan kesehatan antara laki‑laki dan perempuan.

Sementara Indonesia memperingati Hari Kartini, tanggal 21 April juga menjadi World Creativity and Innovation Day, World Curlew Day, dan Tuna Rights Day, masing‑masing menyoroti pentingnya inovasi, konservasi satwa, dan keberlanjutan perikanan.

Peringatan internasional tersebut sejalan dengan agenda PBB untuk pembangunan berkelanjutan, mengajak masyarakat global untuk berkontribusi dalam pemecahan masalah melalui kreativitas, perlindungan habitat burung curlew, serta praktik penangkapan tuna yang bertanggung jawab.

Pemerintah Indonesia bersama WHO telah meluncurkan program peningkatan layanan kesehatan maternal, penyuluhan remaja, dan kampanye anti‑kekerasan gender, dengan target penurunan angka kematian maternal sebesar 30% pada tahun 2030.

Upaya kolaboratif tersebut diharapkan dapat menjadikan peringatan 21 April tidak hanya sekadar seremonial, melainkan momentum aksi nyata untuk meningkatkan kesejahteraan perempuan dan menegakkan hak‑hak kesehatan secara global.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.