Media Kampung – Puskas Arena, stadion nasional yang terletak di Budapest, Hongaria, kembali menjadi pusat perhatian setelah menjadi lokasi final Liga Champions 2025/26 yang mempertemukan Paris Saint-Germain (PSG) dan Arsenal. Pertandingan tersebut berlangsung ketat dan berakhir dengan kemenangan PSG melalui adu penalti.

Dalam laga yang digelar pada Sabtu malam, 30 Mei 2026, Arsenal sempat unggul lebih dulu lewat gol Kai Havertz pada menit keenam. Namun, PSG berhasil menyamakan kedudukan melalui penalti yang dieksekusi oleh Ousmane Dembele pada menit ke-61. Skor 1-1 bertahan hingga waktu normal dan perpanjangan waktu, sehingga pemenang harus ditentukan lewat adu penalti.

Drama penalti berakhir dengan kemenangan 4-3 bagi PSG setelah sepakan Gabriel Magalhaes dari Arsenal melayang. Kemenangan ini sekaligus mempertahankan gelar Liga Champions bagi PSG.

Puskas Arena merupakan stadion modern yang menjadi markas tim nasional Hongaria dan dimiliki oleh pemerintah setempat. Stadion ini menggantikan Stadion Puskás Ferenc yang lebih tua dan berkapasitas lebih dari 90.000 penonton pada awal pembangunannya di tahun 1950-an. Terletak di Distrik XIV Budapest, Puskas Arena kini menjadi salah satu arena olahraga paling canggih di Eropa.

Usai pertandingan, gelandang muda PSG, João Neves, menyampaikan kebanggaannya atas kemenangan dan menilai timnya adalah satu-satunya yang benar-benar ingin bermain sepak bola di final tersebut. Neves yang tampil penuh selama 120 menit menilai dominasi PSG dengan penguasaan bola mencapai 75 persen dan sejumlah peluang yang tercipta menjadi kunci keberhasilan timnya.

Selain sorotan terhadap pertandingan di Puskas Arena, ada pula berita terkait pembalap muda Indonesia, Veda Ega Pratama, yang tengah berjuang di ajang Moto3 2026. Meski menghadapi tekanan berat, Veda mendapat dukungan dari sang ayah yang mengingatkan untuk tetap tenang. Veda saat ini berada di posisi lima besar klasemen sementara Moto3, sebuah pencapaian luar biasa bagi pembalap rookie seperti dirinya.

Di sisi lain, sebuah survei global mengungkapkan bahwa masyarakat Indonesia menjadi yang paling cemas terhadap kemungkinan pekerjaan mereka digantikan oleh kecerdasan buatan (AI). Survei oleh lembaga riset Ipsos menunjukkan 76% warga Indonesia merasa khawatir akan hal ini, menempatkan Indonesia bersama Singapura sebagai negara dengan tingkat kecemasan tertinggi terkait perkembangan AI.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.