Media Kampung – Keputusan wasit Joao Pinheiro yang tidak memberikan penalti atas insiden handball Joao Neves dalam laga Bayern Munchen melawan Paris Saint-Germain pada semifinal Liga Champions 2025/2026 di Allianz Arena, Kamis (7/5/2026), menuai sorotan tajam dari mantan wasit dan pecinta sepak bola. Banyak pihak menilai Bayern Munchen dirugikan akibat keputusan ini, yang dianggap kontroversial karena bola terlihat jelas mengenai tangan gelandang PSG, Joao Neves, di area terlarang.

Insiden tersebut terjadi pada babak kedua saat Bayern Munchen berupaya membalikkan keunggulan PSG. Bola hasil umpan silang meluncur ke kotak penalti dan mengenai lengan Joao Neves, namun wasit Pinheiro tetap melanjutkan permainan tanpa meninjau ulang lewat VAR. Keputusan ini langsung memicu protes keras dari para pemain Bayern dan suporter di Allianz Arena. Banyak yang menilai, seharusnya penalti diberikan karena bola mengenai tangan pemain lawan dalam posisi yang dianggap memperbesar tubuhnya, sesuai regulasi UEFA yang berlaku.

Kritik keras datang dari mantan wasit dan pengamat sepak bola, termasuk Chris Sutton yang menyebut aturan handball UEFA saat ini tidak masuk akal. “Saya tidak memahami bagaimana insiden ini tidak dianggap penalti. Bola terlihat mengenai tangan Neves dan itu terjadi di area penalti, aturan seharusnya jelas,” ujar Sutton dalam komentarnya yang dikutip mediakampung.com. Ia menambahkan, keputusan seperti ini kerap memicu kebingungan di kalangan pemain dan penonton karena tidak ada konsistensi dalam penerapan aturan.

Laporan dari Liputan6.com menjelaskan, alasan utama wasit Pinheiro tidak memberi penalti karena menganggap posisi tangan Joao Neves dalam gerak alami saat berusaha menghalau bola. Namun, banyak pihak beranggapan keputusan tersebut mengundang tanda tanya, mengingat dalam beberapa laga sebelumnya situasi serupa kerap berujung penalti. Hal ini juga disampaikan oleh pengamat sepak bola Eropa yang menilai insiden handball kali ini seharusnya lebih dulu ditinjau lewat VAR sebelum keputusan akhir diambil.

Polemik handball dalam laga Bayern Munchen kontra PSG ini kembali mempertegas perdebatan soal konsistensi penerapan regulasi UEFA. Sejumlah mantan wasit juga angkat suara, menyatakan heran mengapa insiden handball sejelas itu tidak berbuntut penalti untuk Bayern Munchen. Mereka menilai keputusan tersebut merugikan Bayern, apalagi pertandingan berjalan dalam tensi tinggi dan sangat menentukan hasil akhir semifinal Liga Champions musim ini.

Semifinal leg kedua tersebut memang berlangsung sengit, dengan kedua tim sama-sama berjuang keras untuk memastikan tiket ke final Liga Champions. Bayern Munchen yang tertinggal agregat membutuhkan gol tambahan, namun kerap menemui kebuntuan akibat solidnya lini pertahanan PSG dan beberapa keputusan wasit yang dipertanyakan. Salah satu momen krusial terjadi ketika bola mengenai tangan Joao Neves, namun wasit tetap bergeming dan tidak menunjuk titik putih.

Peraturan handball UEFA memang kerap menjadi perdebatan sejak beberapa musim terakhir. Banyak pihak menilai aturan ini terlalu subjektif dan sering menimbulkan interpretasi berbeda di tiap pertandingan. Kasus Bayern Munchen vs PSG menjadi contoh terbaru bagaimana keputusan wasit bisa berdampak signifikan terhadap jalannya laga dan hasil akhir tim. “UEFA perlu memperjelas regulasi handball agar tidak muncul kontroversi setiap musim,” tambah Chris Sutton dalam komentarnya untuk mediakampung.com.

Hingga kini, UEFA belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait insiden di Allianz Arena tersebut. Bayern Munchen dan pelatih Thomas Tuchel dikabarkan telah menyampaikan protes resmi atas keputusan wasit yang dinilai merugikan timnya. Sementara itu, PSG tetap melaju ke babak final Liga Champions musim ini setelah unggul agregat atas Bayern Munchen, meski kemenangan mereka diwarnai kontroversi handball Neves.

Kritik terkait keputusan wasit dan regulasi UEFA kembali mengemuka di berbagai media dan forum sepak bola Eropa. Banyak pengamat menilai, insiden seperti ini harus menjadi bahan evaluasi bagi UEFA untuk memperbaiki kejelasan aturan dan penerapannya di masa depan, agar tidak menimbulkan ketidakpastian dan ketidakpuasan di kalangan klub serta penggemar sepak bola.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.