Media Kampung – Kontroversi mewarnai hasil semifinal Liga Champions antara Bayern Munchen dan Paris Saint-Germain setelah petinggi Bayern, Max Eberl, mengungkap kecurigaannya terhadap wasit Joao Pinheiro yang dianggap berpihak pada PSG. Pertandingan leg kedua di Allianz Arena pada Kamis, 7 Mei 2026, berakhir imbang 1-1, yang membuat Bayern tersingkir dengan agregat 6-5 dan gagal melaju ke final. Eberl terang-terangan mempertanyakan sejumlah keputusan Joao Pinheiro yang dinilai merugikan timnya, terutama dalam insiden-insiden krusial yang terjadi selama laga berlangsung.

Menurut pernyataan Max Eberl kepada mediakampung.com, ia merasa keputusan-keputusan kecil dari wasit sangat memengaruhi hasil akhir pertandingan. Salah satu insiden yang paling disorot adalah saat bek PSG Nuno Mendes, yang telah menerima kartu kuning, tidak diberikan kartu kuning kedua setelah handball di babak pertama. Wasit Pinheiro justru menilai Konrad Laimer dari Bayern lebih dulu melakukan handball sebelum bola mengenai tangan Mendes. Keputusan ini memicu protes keras dari kubu Bayern karena Mendes seharusnya diusir dari lapangan yang bisa mengubah jalannya pertandingan secara signifikan.

Selain keputusan terkait handball Mendes, Eberl juga menyoroti interaksi wasit dengan beberapa pemain PSG yang juga berasal dari Portugal. “Dia berbicara dengan para pemain Portugal, yang selalu dia dampingi juga saat tendangan sudut. Mungkin dia menjelaskan sesuatu kepada mereka di sana; dia tidak menjelaskannya kepada saya,” ujar Eberl usai laga. Pernyataan ini menguatkan kecurigaan Bayern Munchen bahwa komunikasi wasit lebih terbuka kepada pemain PSG, yang beberapa di antaranya satu negara asal dengan wasit Joao Pinheiro.

Pelatih Bayern, Vincent Kompany, juga menyampaikan kekecewaannya terhadap sejumlah keputusan Joao Pinheiro. Kompany secara terbuka menilai wasit merugikan timnya dalam dua situasi kunci, yaitu potensi kartu merah Nuno Mendes serta potensi penalti yang diabaikan setelah bola mengenai tangan Joao Neves di kotak penalti PSG. Kompany menegaskan, “Saya melihat kartu merah dan penalti malam ini, tetapi wasit tidak melihatnya.” Ia juga mengaku bingung dengan logika di balik keputusan-keputusan tersebut, terutama ketika VAR turut mendukung keputusan wasit di lapangan.

Dari sisi data, Joao Pinheiro merupakan wasit asal Portugal berusia 38 tahun yang sudah mengantongi lisensi FIFA sejak 2016. Ia tercatat memimpin pertandingan tingkat internasional, termasuk Liga Champions, dan dikenal pernah mengeluarkan sejumlah kartu merah dalam laga-laga penting. Dalam pertandingan Bayern kontra PSG, dua insiden utama yang dipersoalkan adalah handball oleh Nuno Mendes pada menit ke-29 dan Joao Neves pada menit ke-31. Jika kedua keputusan itu menguntungkan Bayern, hasil pertandingan bisa berbeda karena Mendes bisa saja diusir keluar dan penalti diberikan kepada Bayern.

Hasil imbang 1-1 di Allianz Arena memastikan PSG melaju ke final Liga Champions untuk menghadapi Arsenal di Puskas Arena pada akhir Mei 2026. Sementara itu, Bayern Munchen harus mengubur harapan merengkuh gelar Eropa musim ini. Kontroversi keputusan wasit Joao Pinheiro dan dugaan keberpihakan terhadap PSG masih menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan penggemar dan pengamat sepak bola Eropa, terutama setelah adanya sorotan interaksi khusus antara wasit dan para pemain Portugal di kubu PSG.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.