Media Kampung – Nasi uduk dan bubur ayam sama-sama populer sebagai menu sarapan di Indonesia. Keduanya mampu memberikan energi untuk memulai aktivitas, namun memiliki profil gizi yang berbeda. Ahli gizi dari Rumah Sakit Universitas Brawijaya (RSUB) Malang, Ariesta, mengungkapkan perbedaan utama antara kedua hidangan ini.
Kandungan Kalori dan Lemak
Menurut Ariesta, nasi uduk memiliki kandungan kalori yang cenderung lebih tinggi dibandingkan bubur ayam. Hal ini disebabkan oleh proses memasak nasi uduk yang menggunakan santan, sehingga meningkatkan kandungan lemaknya. “Nasi uduk merupakan sumber karbohidrat yang memberikan energi cukup besar. Namun karena dimasak dengan santan, kandungan lemak dan kalorinya menjadi lebih tinggi dibandingkan nasi putih biasa,” jelas Ariesta pada Minggu (5/7/2026).
Selain itu, tambahan lauk seperti ayam goreng, telur balado, bihun goreng, orek tempe, dan kerupuk semakin meningkatkan total kalori nasi uduk. Sementara itu, bubur ayam memiliki tekstur lebih lembut dengan kandungan air yang lebih banyak, sehingga secara umum kalorinya lebih rendah. Namun, nilai gizinya tetap dipengaruhi oleh jenis dan jumlah pelengkap yang digunakan.
Protein dan Pelengkap
Bubur ayam biasanya mendapatkan protein dari suwiran ayam. Tambahan seperti cakwe, kerupuk, kacang, atau minyak bawang juga memengaruhi kandungan lemak dan kalorinya. “Bubur ayam biasanya lebih ringan karena kadar airnya tinggi. Protein diperoleh dari suwiran ayam, sementara tambahan seperti cakwe, kerupuk, kacang, atau minyak bawang juga akan memengaruhi kandungan lemak dan kalorinya. Jadi tetap perlu memperhatikan porsinya,” kata Ariesta.
Tips Sarapan Sehat
Ariesta menekankan bahwa baik nasi uduk maupun bubur ayam dapat menjadi pilihan sarapan yang sehat jika dikonsumsi secara seimbang. Kuncinya adalah melengkapi menu dengan sumber protein, sayuran, serta membatasi penggunaan lauk yang digoreng dan tambahan santan berlebihan. “Yang paling penting bukan memilih mana yang lebih sehat secara mutlak, tetapi bagaimana menyusun komposisi makan yang seimbang. Tambahkan sayuran, pilih lauk berprotein tanpa banyak minyak, dan sesuaikan porsinya dengan kebutuhan energi masing-masing,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya sarapan untuk memenuhi kebutuhan energi setelah berpuasa semalaman. “Sarapan tetap dianjurkan karena membantu memenuhi kebutuhan energi setelah berpuasa semalaman. Pilih menu yang mengandung karbohidrat, protein, sedikit lemak sehat, serta serat agar rasa kenyang bertahan lebih lama dan kebutuhan gizi tetap terpenuhi,” pungkas Ariesta.
Artikel ini telah ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Media Kampung.























Tinggalkan Balasan