Media Kampung – Serial bertema kuliner kini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga penggerak baru tren makanan di dunia. Tayangan seperti acara memasak, dokumenter, hingga drama yang menampilkan makanan mulai memengaruhi cara masyarakat memilih restoran, mengenal budaya baru, bahkan menentukan destinasi wisata. Fenomena ini terlihat dari meningkatnya popularitas berbagai tayangan bertema makanan dalam beberapa tahun terakhir, di mana makanan yang dulu hanya pelengkap cerita kini menjadi elemen utama yang menghubungkan penonton dengan budaya dan identitas suatu daerah.

Salah satu contoh paling nyata datang dari Korea Selatan melalui kompetisi memasak “Culinary Class Wars“. Tayangan ini tidak hanya sukses menarik perhatian global, tetapi juga berdampak langsung pada industri kuliner. Berdasarkan data platform reservasi restoran Korea, Catchtable, restoran milik para chef peserta mengalami kenaikan rata-rata pemesanan hingga 148 persen selama musim pertama. Pada musim kedua, jumlah pemesanan dan daftar tunggu bahkan meningkat sekitar 303 persen dalam lima minggu setelah penayangan perdana dibandingkan lima minggu sebelumnya.

Fenomena serupa menunjukkan bahwa tayangan kuliner kini memiliki kekuatan membangun rasa penasaran penonton terhadap makanan, restoran, hingga sosok di balik hidangan. Tak hanya acara kompetisi, drama bertema makanan juga turut mendorong tren ini. Serial Korea “Bon Apptit, Your Majesty” berhasil bertahan selama 10 minggu dalam daftar Global Top 10 serial non-Inggris Netflix dan masuk jajaran top 10 di lebih dari 79 negara. Sementara itu, “Tastefully Yours” menempati posisi pertama Netflix di 23 negara.

Kesuksesan berbagai tayangan tersebut memperlihatkan bahwa makanan telah menjadi medium bercerita yang efektif. Penonton tidak hanya mengikuti alur cerita, tetapi juga ikut mengenal tradisi, kebiasaan makan, dan budaya dari daerah atau negara lain. Di Indonesia, tayangan kuliner juga berperan memperkenalkan kekayaan gastronomi lokal. Salah satunya melalui serial dokumenter “Street Food Asia” yang menyoroti budaya makanan kaki lima di berbagai negara Asia. Episode Yogyakarta menjadi sorotan karena menampilkan kuliner legendaris seperti Lupis Mbah Satinem, Gudeg Mbah Lindu, hingga Mie Lethek Cap Garuda. Tayangan ini turut memperkuat citra Yogyakarta sebagai destinasi wisata kuliner.

Belakangan, cerita tentang makanan semakin sering hadir dalam produksi Indonesia. Serial “Luka Makan Cinta” mengangkat dinamika dunia kuliner dengan latar Bali, menampilkan hidangan lokal seperti lontong balap, lobster sambal matah, hingga pisang ijo dalam penyajian modern. Serial ini masuk daftar Global Top 10 Netflix untuk serial non-Inggris dengan sekitar 2,4 juta penayangan dan berhasil masuk top 10 di 30 negara. Di Indonesia, serial itu bertahan selama lima minggu berturut-turut dalam daftar top 10.

Menurut chef sekaligus pemenang MasterChef Indonesia Season 8, Jesselyn Lauwreen, daya tarik tayangan kuliner saat ini terletak pada cerita di balik makanan. “Tayangan kuliner saat ini telah berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih personal dan emosional. Tentang cerita, passion, dan perjuangan di baliknya yang membuat penonton merasa lebih terhubung dengan sebuah hidangan dan chef di baliknya, sekaligus membantu mereka menghargai proses yang terjadi di balik setiap sajian, mulai dari tekanan di dapur, kerja sama tim, menjaga konsistensi, hingga kerja keras yang sering kali tidak terlihat oleh pelanggan,” ujarnya, seperti dikutip dari siaran resmi Netflix yang diterima Media Kampung.

Perubahan cara bercerita inilah yang membuat tayangan kuliner semakin dekat dengan penonton. Makanan bukan lagi sekadar objek visual yang menggugah selera, melainkan pintu masuk untuk memahami budaya baru, perjalanan hidup seseorang, hingga pengalaman yang lebih personal.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.