Media Kampung – Federal Bureau of Investigation (FBI) menangkap lima orang yang diduga merencanakan serangan terhadap Gedung Putih saat acara UFC Freedom 250 pada akhir pekan lalu. Rencana tersebut digagalkan sebelum sempat dilancarkan, dan para tersangka kini ditahan.
Direktur FBI Kash Patel mengonfirmasi penangkapan tersebut dalam pernyataan resmi yang dikutip AFP pada Selasa (16/6). “Beberapa individu sekarang berada dalam tahanan dan dugaan rencana serangan telah dihentikan,” ujarnya.
Menurut Departemen Kehakiman, para pelaku berencana menerbangkan drone yang dilengkapi bahan peledak di atas lokasi acara. Ledakan dari drone itu direncanakan untuk memicu evakuasi massal, yang kemudian akan dimanfaatkan oleh penembak jitu untuk menembak target bernilai tinggi di tengah kepanikan.
Salah satu tersangka yang ditangkap adalah Tycen Proper, 19 tahun, yang telah ditahan sejak 10 Juni. Proper dilaporkan oleh ibunya sendiri setelah polisi mengetahui komunikasinya dengan kelompok ekstremis secara online. “Proper diduga mengumpulkan senjata api, ribuan butir amunisi, dan perlengkapan taktis di rumahnya di Ohio, serta mengidentifikasi target potensial termasuk beberapa anggota Kongres,” jelas Departemen Kehakiman.
Acara UFC Freedom 250 digelar di halaman selatan Gedung Putih pada Minggu (14/6) dan dihadiri langsung oleh Presiden Donald Trump, Ibu Negara Melania Trump, serta CEO UFC Dana White. Acara ini bertepatan dengan perayaan ulang tahun Trump yang ke-80 dan menjadi bagian dari rangkaian peringatan 250 tahun deklarasi kemerdekaan AS.
Direktur Dinas Rahasia Sean Curran menyatakan bahwa agen khusus dan tim keamanan teknis telah bekerja tanpa henti untuk mengidentifikasi dan menangkap para pelaku. “Dalam beberapa hari menjelang akhir pekan ini, agen khusus kami, personel pendukung misi, dan tim keamanan teknis bekerja tanpa henti untuk mengidentifikasi mereka yang bertanggung jawab dan meminta pertanggungjawaban mereka,” tulis Curran di X.
Wakil Presiden AS JD Vance, yang juga menghadiri acara tersebut, mengaku baru mengetahui rencana itu setelah pengumuman FBI. Vance menyebutnya sebagai “rencana teroris yang terkoordinasi dan terencana” dengan skala yang besar. Ia juga menyinggung dugaan keterlibatan kelompok sayap kiri radikal dan menuduh retorika Demokrat memicu kekerasan politik. “Semua orang memiliki peran untuk menghentikan hal-hal ini, tetapi saya pikir banyak kolega Demokrat saya di Washington harus bercermin dan berkata, ‘mengapa begitu banyak kekerasan politik ini berasal dari pihak kita’,” kata Vance.
Gedung Putih sendiri dijaga dengan sistem pengamanan berlapis, termasuk pengawasan ketat, pagar dan pos pemeriksaan, kemampuan pertahanan udara, penembak jitu, serta pasukan reaksi cepat yang siaga permanen. Hingga berita ini diturunkan, para tersangka masih dalam tahanan dan proses hukum terus berjalan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.




Tinggalkan Balasan