Media Kampung – Maraknya pinjaman online (pinjol) dan judi online (judol) di Indonesia menjadi ancaman serius, terutama bagi generasi muda. Psikolog Laras Purnamasari, S.Psi., M.Psi. menegaskan bahwa penegakan hukum saja tidak cukup untuk mengatasi masalah ini. Diperlukan penguatan kesadaran diri dan kemampuan mengelola tekanan hidup sebagai benteng utama.

Mengapa Orang Tetap Terjerat Meski Tahu Risikonya?

Menurut Laras, banyak orang sebenarnya memahami risiko pinjol dan judol, tetapi tetap memilih mencobanya karena merasa tidak memiliki alternatif lain. Tekanan ekonomi, tuntutan gaya hidup, dan keinginan memperoleh hasil cepat mendorong keputusan impulsif. “Sering kali seseorang berpikir bulan depan pasti ada uang untuk membayar pinjaman, atau merasa sekali lagi bermain judi pasti akan menang. Padahal pola pikir seperti itu justru menjadi awal munculnya masalah yang lebih besar,” ujar Laras dalam Obrolan SPADA RRI Singaraja, Kamis, 25 Juni 2026.

Literasi Keuangan dan Kesadaran Diri sebagai Pondasi

Rendahnya literasi keuangan turut memperbesar risiko. Banyak masyarakat belum memahami konsekuensi bunga pinjaman, denda keterlambatan, maupun dampak psikologis saat utang menumpuk. Sementara itu, judi online memanfaatkan rasa penasaran dan harapan untung instan sehingga memicu kecanduan. “Kalau seseorang terus berharap keberuntungan datang tanpa melihat kenyataan, maka ia akan sulit keluar dari lingkaran tersebut. Karena itu kesadaran diri menjadi pondasi paling penting untuk menghentikan kebiasaan tersebut,” kata Laras.

Langkah Praktis Mencegah dan Mengatasi

Pencegahan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti menyusun anggaran bulanan, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta mempelajari legalitas layanan keuangan sebelum menggunakannya. Bagi yang mulai kehilangan kontrol akibat judi online, Laras menyarankan untuk segera memutus akses ke aplikasi atau situs perjudian, meminta dukungan keluarga atau teman terdekat, dan mengisi waktu dengan kegiatan positif. Jika kondisi sudah mengganggu aktivitas sehari-hari, bantuan psikolog atau tenaga profesional sangat dianjurkan.

Pesan untuk Generasi Muda

Laras mengajak generasi muda untuk tidak mudah tergiur janji keuntungan instan. Keberhasilan finansial dibangun melalui proses, perencanaan, dan kedisiplinan, bukan jalan pintas. Dengan meningkatkan kesadaran diri, memperkuat literasi keuangan, serta menjaga kesehatan mental, generasi muda diharapkan mampu menghadapi tekanan ekonomi secara lebih bijaksana tanpa harus terjebak pinjol maupun judol.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.