Media Kampung – Alergi susu sapi pada anak sering ditandai dengan ruam kulit, gangguan pencernaan, atau batuk berulang. Namun, diagnosis tidak bisa ditegakkan hanya berdasarkan satu kali pemeriksaan atau gejala sesaat. Dokter Spesialis Anak Konsultan Alergi dan Imunologi, dr. Molly Dumakuri Oktarina, Sp.A(K), menekankan bahwa proses diagnosis alergi protein susu sapi memerlukan tahapan yang menyeluruh dan bertahap.
Dalam acara Talkshow Jelang World Allergy Week 2026 yang diselenggarakan bersama Sarihusada di Jakarta Selatan, dr. Molly menjelaskan bahwa saat konsultasi, dokter akan menggali riwayat kesehatan anak secara detail. Orang tua akan ditanya mengenai perjalanan penyakit, gejala yang muncul, kapan gejala terjadi, serta pola makan dan asupan nutrisi anak sehari-hari. Selain wawancara medis, dokter juga melakukan pemeriksaan fisik untuk melihat kondisi anak secara keseluruhan.
Jika dicurigai alergi protein susu sapi, langkah pertama yang dilakukan adalah eliminasi. Pada tahap ini, anak tidak diperbolehkan mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung protein susu sapi selama 1-2 minggu hingga 2-4 minggu, tergantung jenis dan tingkat keparahan gejala. Selama eliminasi, dokter akan memantau apakah gejala membaik, memburuk, atau tetap sama.
Apabila gejala membaik setelah eliminasi, langkah selanjutnya adalah provokasi, yaitu mengenalkan kembali protein susu sapi secara terkontrol sesuai anjuran dokter. Jika setelah provokasi gejala kembali muncul, hal ini menjadi petunjuk kuat bahwa anak memang alergi protein susu sapi. dr. Molly mengingatkan orang tua untuk tidak melakukan diagnosis sendiri dan selalu berkonsultasi dengan tenaga medis agar penanganan sesuai kondisi anak. Dengan diagnosis yang tepat, anak bisa mendapatkan pengelolaan nutrisi yang sesuai dan tetap memperoleh gizi optimal untuk tumbuh kembangnya.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan