Media Kampung – Stres telah menjadi masalah kesehatan yang meluas di Indonesia, dengan 74 persen orang dewasa mengalaminya sepanjang 2025 menurut Mental Health Foundation. Namun, upaya untuk mengatasi stres seringkali justru kontraproduktif karena dilakukan dengan energi yang sama seperti saat stres. Nahid de Belgeonne, penulis dan ahli strategi sistem saraf, menjelaskan bahwa sistem saraf tidak merespons dengan baik terhadap tekanan yang dibungkus sebagai self-care. Hal ini justru bisa menciptakan tekanan internal yang lebih besar.

Sistem saraf adalah pusat kendali utama tubuh yang mengirimkan pesan dari otak ke seluruh tubuh. Sistem ini terus mengumpulkan informasi dari lingkungan internal dan eksternal, lalu menentukan apakah tubuh perlu bersiap, melindungi diri, bergerak, atau merasa aman. Sistem saraf sangat adaptif dan belajar melalui pengulangan, sehingga tekanan yang terus-menerus dapat membuat tubuh terjebak dalam siklus stres berkepanjangan. Stres tidak hanya psikologis, tetapi juga fisiologis, di mana tubuh menyesuaikan diri dengan ritme dan tuntutan hidup yang penuh tekanan.

Beberapa tanda sistem saraf tidak terregulasi dengan baik antara lain kesulitan rileks, napas pendek dan dangkal, ketegangan pada rahang atau bahu, gangguan tidur, serta ketidakmampuan untuk beristirahat dengan tenang. Untuk mereset sistem saraf, para ahli merekomendasikan beberapa langkah sederhana yang dapat membantu menggeser tubuh dari mode fight-or-flight ke mode rest-and-digest.

Fokus pada Satu Hal dalam Satu Waktu

Ahli akupunktur Ross J. Barr menyarankan untuk fokus pada satu tugas dalam satu waktu. Sistem saraf yang sehat tidak dibangun melalui rutinitas yang sempurna, melainkan melalui hubungan yang berkelanjutan dengan ritme hidup, waktu istirahat, gerakan tubuh, teknologi, dan tekanan. Nahid de Belgeonne menyarankan untuk berjalan tanpa gawai, makan tanpa multitasking, mengurangi rasa urgensi yang tidak perlu, dan menonton film tanpa menggulir media sosial. Tubuh beradaptasi melalui pengulangan, ritme, dan pengalaman nyata, sehingga hal-hal yang paling membantu sering kali justru yang paling tidak performatif.

Prioritaskan Momen Hening

Veronica Immink Gill, master bodyworker Mauli Rituals, menganjurkan adanya momen-momen hening secara sensorik sepanjang hari, seperti pencahayaan lembut, stimulasi minimal, aroma menenangkan, mandi air hangat, sentuhan, dan jeda dari layar. Regulasi sistem saraf bukan soal performa, melainkan memberi izin pada diri sendiri untuk berhenti sejenak, melunak, dan kembali bernapas dengan tenang. Anita Kaushal, pendiri Mauli Rituals, menyarankan untuk memasang pengingat di ponsel guna berhenti sejenak dan menikmati momen hening.

Bernapas Lebih Perlahan

Praktisi breathwork Rob Rea menjelaskan bahwa napas adalah salah satu cara tercepat untuk memengaruhi sistem saraf. Stres kronis dapat mengganggu pola alami kortisol, menyebabkan kelelahan namun gelisah di malam hari, gangguan tidur, dan kekurangan energi di pagi hari. Latihan pernapasan dengan ekshalasi yang lebih panjang dan lambat, seperti metode pernapasan 4–6, dapat mengaktifkan sistem saraf parasimpatik yang bertanggung jawab atas istirahat dan pemulihan.

Coba Contrast Therapy

Michal Cohen-Sagi, longevity architect pendiri Vidavii, merekomendasikan paparan suhu dingin secara strategis untuk merangsang saraf vagus dan meningkatkan ketahanan tubuh terhadap stres. Di sisi lain, terapi panas membantu melancarkan sirkulasi dan memberikan efek relaksasi yang memudahkan tubuh keluar dari mode stres.

Bersenandung

Aktivitas bersenandung menghasilkan getaran yang merangsang saraf vagus. Penelitian menunjukkan bahwa bersenandung dapat membantu menurunkan tingkat stres. Cohen-Sagi menjelaskan bahwa sound bath, bersenandung, atau suara bernada rendah dapat merangsang saraf vagus melalui getaran dan jalur pendengaran.

Jaga Hubungan Sosial

Nahid de Belgeonne menekankan bahwa koneksi sosial membantu menciptakan kondisi fisiologis yang lebih tenang dan stabil. Bertemu teman, menghabiskan waktu bersama keluarga, atau menjalin pertemanan baru dapat memicu pelepasan hormon oksitosin yang berkaitan dengan rasa nyaman dan aman. Hal ini membantu menonaktifkan respons fight-or-flight yang berlebihan.

Kuncinya adalah mengalihkan fokus dari obsesi untuk terus memperbaiki diri dan mulai memprioritaskan regulasi diri. Dengan langkah-langkah sederhana ini, sistem saraf dapat kembali seimbang, menurunkan kadar kortisol, dan memberikan pikiran yang lebih tenang dan jernih.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.