Media Kampung – Kawasan Fujikawaguchiko, salah satu destinasi wisata ikonik di Jepang dengan pemandangan Gunung Fuji, kini menghadapi masalah serius akibat overtourism. Fenomena ini menjadi paradoks dari strategi nation branding Jepang yang sukses mempromosikan Gunung Fuji sebagai daya tarik global, namun justru menimbulkan tekanan bagi masyarakat lokal dan lingkungan.

Dampak Overtourism di Fujikawaguchiko

Menurut laporan Japan Forward (2024), peningkatan jumlah wisatawan pasca-pandemi memicu berbagai masalah, seperti kemacetan lalu lintas, parkir ilegal, penumpukan sampah, wisatawan yang memasuki area pribadi warga, dan gangguan terhadap aktivitas sehari-hari. Pemerintah setempat bahkan memasang layar hitam di salah satu lokasi foto paling populer untuk mengurangi kepadatan dan melindungi kenyamanan warga.

Kebijakan Baru Pemerintah Jepang

Sebagai respons, Pemerintah Prefektur Yamanashi menerapkan kebijakan baru pada musim pendakian 2024. Kebijakan tersebut meliputi pembatasan jumlah pendaki hingga 4.000 orang per hari, penerapan gerbang pembatas di Stasiun Kelima (5th Station), biaya masuk wajib sebesar 2.000 yen bagi pendaki jalur Yoshida-Guchi, serta penutupan gerbang pendakian setiap pukul 16.00 hingga 03.00 untuk membatasi praktik bullet climbing—pendakian tanpa istirahat yang meningkatkan risiko keselamatan dan tekanan lingkungan (Fujiyoshida City, 2025).

Paradoks Soft Power dan Nation Branding

Dalam teori hubungan internasional, soft power—kemampuan suatu negara untuk menarik pihak lain melalui daya tarik budaya dan nilai—menjadi instrumen penting. Jepang berhasil memanfaatkan Gunung Fuji sebagai simbol nation branding, yang berkontribusi pada peningkatan kunjungan wisatawan internasional hingga 36,9 juta pada tahun 2024 (JNTO, 2025). Namun, keberhasilan ini tidak serta merta menguntungkan masyarakat lokal. Keuntungan ekonomi dinikmati secara nasional, sementara biaya sosial dan lingkungan ditanggung oleh komunitas di Fujikawaguchiko.

Menurut Nye (2004), soft power berasal dari daya tarik yang membuat pihak lain tertarik tanpa paksaan. Namun, kasus ini menunjukkan bahwa daya tarik yang berlebihan justru bisa menjadi boomerang. Goodwin (2017) mendefinisikan overtourism sebagai kondisi ketika jumlah wisatawan melebihi kapasitas sosial dan lingkungan suatu destinasi, yang terbukti terjadi di Fujikawaguchiko.

Pelajaran untuk Pariwisata Berkelanjutan

Kasus Fujikawaguchiko mengingatkan bahwa keberhasilan nation branding tidak hanya diukur dari jumlah kunjungan, tetapi juga dari dampaknya terhadap keberlanjutan destinasi dan kesejahteraan masyarakat setempat. Tantangan utama pariwisata sebagai instrumen soft power kini bukan lagi menarik lebih banyak wisatawan, melainkan mengelola daya tarik tersebut agar tidak menjadi beban bagi destinasi itu sendiri. Tanpa pengelolaan berkelanjutan, citra positif global justru berpotensi mengikis kualitas lingkungan dan kehidupan lokal yang menjadi fondasi daya tarik Jepang.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.