Media Kampung, Kumamoto – Dua karyawan wanita di pusat perbelanjaan Aeon Kumamoto meninggal dunia akibat ledakan yang terjadi setelah gempa bumi berkekuatan 7,1 skala Richter pada 28 Juli 2026. Keduanya awalnya telah berhasil dievakuasi keluar gedung, namun kemudian diperintahkan oleh manajemen perusahaan untuk kembali ke dalam guna mengamankan uang hasil penjualan hari itu.

Peristiwa ledakan tersebut menewaskan tujuh orang, termasuk kedua karyawan dari toko kosmetik dan barang kebutuhan sehari-hari Habita. Salah satu korban, Kurumi Otake, berusia 22 tahun. Manajer penjualan Habita, Koji Yuse, mengakui bahwa dirinya yang memerintahkan karyawan tersebut untuk kembali ke dalam gedung demi memasukkan uang tunai ke dalam brankas meskipun kondisi gedung masih berisiko. Yuse menyatakan penyesalannya atas keputusan tersebut.

Baca juga:

Setelah gempa mengguncang Kumamoto, para karyawan Habita telah melakukan evakuasi awal ke luar gedung. Namun, manajemen menginstruksikan mereka untuk kembali jika memungkinkan, dengan tujuan mengamankan uang hasil penjualan yang disimpan di toko. Pada sekitar pukul 17.35 waktu setempat, kedua wanita tersebut kembali memasuki gedung. Ledakan terjadi sekitar pukul 17.50, meruntuhkan bagian gedung dan menyebabkan kematian mereka.

Pihak Aeon menegaskan bahwa prosedur evakuasi yang berlaku melarang karyawan untuk kembali ke dalam gedung setelah evakuasi awal. Namun, pada saat kejadian, staf Aeon di pintu masuk hanya mengingatkan karyawan tersebut untuk berhati-hati tanpa mencegah mereka masuk kembali. Saat ini, Aeon sedang melakukan investigasi internal terkait insiden ini.

Baca juga:

Selain kasus di Aeon Kumamoto, gempa bumi yang melanda wilayah tersebut telah menyebabkan 38 orang meninggal dunia dan ribuan bangunan mengalami kerusakan. Hingga satu minggu setelah gempa, lebih dari 7.500 orang masih mengungsi di berbagai tempat penampungan. Suhu panas yang mencapai lebih dari 35 derajat Celsius menambah tantangan bagi para pengungsi yang bertahan di tempat penampungan sementara.

Di lokasi Aeon Kumamoto, masyarakat setempat telah memberikan penghormatan dengan menaruh bunga, makanan ringan, dan kartu tanda tangan sebagai bentuk duka cita kepada para korban. Seorang warga menceritakan bahwa anak perempuannya yang bekerja di pusat perbelanjaan itu selamat karena berhasil mengungsi ke luar gedung tanpa kembali masuk.

Baca juga:

Kejadian ini memicu perdebatan mengenai manajemen krisis dan keselamatan kerja di tengah bencana alam. Sejumlah ahli hukum menilai bahwa jika risiko kerusakan dan bahaya gedung masih besar, memerintahkan karyawan kembali ke dalam dapat dianggap sebagai kelalaian yang berpotensi menimbulkan tanggung jawab pidana.

Gempa Kumamoto juga menimbulkan dampak luas termasuk kerusakan infrastruktur, gangguan pasokan air, dan potensi bencana susulan akibat aktivitas sesar yang masih aktif. Pemerintah dan lembaga terkait terus berupaya memberikan bantuan dan memperbaiki kondisi pengungsi di daerah terdampak.