Media Kampung – Presiden China Xi Jinping dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menggelar pertemuan puncak di Pyongyang pada 8-9 Juni 2026. Dalam pernyataan resmi setelah KTT, kedua pemimpin sama sekali tidak menyinggung isu denuklirisasi Semenanjung Korea. Hal ini menimbulkan tanda tanya besar di kalangan pengamat internasional.

Kunjungan Xi ke Pyongyang merupakan yang pertama sejak 2019 dan menjadi perjalanan luar negeri pertamanya di tahun ini. Xi dan Kim sepakat memperkuat komunikasi strategis serta meningkatkan kerja sama di bidang diplomasi, penegakan hukum, dan militer. Mereka juga berencana memperingati 65 tahun Perjanjian Persahabatan, Kerja Sama, dan Bantuan Timbal Balik yang ditandatangani pada 1961.

Pakta tersebut menyatakan bahwa jika salah satu pihak diserang secara bersenjata, pihak lain wajib memberikan bantuan militer. Kehadiran Menteri Pertahanan China Dong Jun dalam rombongan Xi menegaskan keseriusan komitmen pertahanan kedua negara.

Absennya isu nuklir dalam pertemuan ini menandai perubahan sikap Beijing. Pada KTT 2019, Xi secara terbuka mendukung denuklirisasi. Namun, dalam pertemuan kali ini, China menerapkan kebijakan ambiguitas strategis. Langkah ini dinilai sebagai upaya menjaga sekutu setianya agar tidak berpaling total ke Rusia.

Pengamat menilai China kini lebih memprioritaskan persatuan regional untuk melawan pengaruh Amerika Serikat daripada mengekang ambisi nuklir Kim Jong Un. Patrick Cronin dari Hudson Institute mengatakan kepada Yonhap bahwa Beijing lebih fokus menyangkal pengaruh AS daripada menyangkal kepemilikan senjata nuklir Pyongyang.

Pernyataan resmi China dan Korea Utara sama-sama menekankan persahabatan tradisional tanpa menyebut program nuklir. Kantor Berita KCNA melaporkan bahwa kedua pemimpin sepakat membuka babak baru hubungan bilateral. Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian menyatakan Beijing siap meningkatkan pertukaran di berbagai bidang.

Kunjungan Xi ini juga dipandang sebagai upaya China mengembalikan pengaruhnya setelah Pyongyang sempat lebih dekat dengan Rusia, termasuk mengirim pasukan ke Ukraina. Dengan menghindari tekanan soal nuklir, Beijing berharap dapat mempertahankan hubungan erat dengan Korut di tengah persaingan global yang semakin ketat.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.