Media Kampung – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Iran tidak akan menerima pelonggaran sanksi dalam negosiasi yang sedang berlangsung, menandakan kebuntuan baru dalam upaya kesepakatan antara kedua negara. Pernyataan ini muncul pada rapat kabinet AS, Rabu, 27 Mei 2026, menegaskan ketidaksepakatan yang terus berlanjut antara Washington dan Teheran.

Trump menegaskan bahwa Iran tidak bisa mengulur waktu dan menolak memberikan keringanan sanksi atau uang kepada Teheran. Ia juga menyebut bahwa uranium yang diperkaya milik Iran akan diserahkan kepada AS untuk dihancurkan, bukan sebagai bagian dari kompromi terkait sanksi.

Sementara itu, Iran menolak untuk menyerahkan sekitar 440 kilogram material nuklirnya. Klaim Trump sebelumnya bahwa Iran setuju untuk memberikan uranium dengan tempo santai dibantah keras oleh pemerintah Iran. Perselisihan ini menjadi salah satu hambatan utama dalam negosiasi gencatan senjata yang bertujuan mengakhiri konflik yang telah berlangsung lebih dari 12 minggu.

Selain isu uranium, kedua negara juga berseteru soal kelanjutan sanksi AS, blokade pelabuhan Teheran oleh AS, dan kendali atas Selat Hormuz yang strategis. Blokade tersebut menyebabkan lonjakan harga energi global dan inflasi di Amerika Serikat, sementara upaya AS membuka jalur air secara paksa belum berhasil.

Trump menuding Iran menggunakan blokade sebagai taktik melemahkan dukungan politik domestik menjelang pemilihan paruh waktu AS. Ia menolak kompromi yang melibatkan Oman dalam mengendalikan Selat Hormuz dan bahkan mengisyaratkan kemungkinan tindakan militer terhadap Oman jika ikut campur.

Setelah kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan militer AS dan Israel pada Februari 2026, kepemimpinan Iran beralih ke putranya, Mojtaba Khamenei. Meskipun demikian, sistem pemerintahan Iran tetap kuat, dengan Korps Garda Revolusi Islam mempertahankan peran sentral dalam politik dan militer.

Gencatan senjata sementara yang mulai berlaku pada 8 April 2026 kini menghadapi hambatan serius akibat perbedaan pandangan yang tajam. Trump mengklaim Iran telah melemah dan sangat ingin bernegosiasi, namun kenyataannya negosiasi masih terhenti dan kedua pihak belum mencapai konsensus.

Selain itu, Gedung Putih membantah laporan dari media pemerintah Iran yang menyatakan adanya nota kesepahaman untuk membuka kembali Selat Hormuz dengan syarat pencabutan blokade AS. Pemerintah AS menyebut laporan tersebut sebagai rekayasa dan menolak kendali Iran atas jalur perdagangan strategis itu.

Trump menegaskan bahwa AS tidak akan mengizinkan Iran mengendalikan Selat Hormuz dan bahwa negosiasi sedang berlangsung untuk mempertahankan pengawasan AS atas wilayah tersebut. Ia juga menolak adanya keringanan sanksi langsung, meskipun menyebut jika Iran berperilaku baik, mereka bisa mendapatkan akses terhadap aset yang dibekukan.

Dengan pernyataan yang saling bertentangan antara AS dan Iran, prospek kesepakatan kedua negara masih jauh dari kata pasti dan kemungkinan besar akan terus menemui jalan buntu.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.