Media Kampung – 12 April 2026 | Serangan drone dan misil yang menargetkan fasilitas energi Arab Saudi pada Jumat (10/4) mengganggu operasi produksi minyak, gas, serta jaringan transportasi dan petrokimia.
Kerusakan meluas ke Riyadh, Provinsi Timur, dan kota industri Yanbu, menimbulkan kekhawatiran penurunan pasokan global dan volatilitas harga minyak.
Salah satu stasiun pompa pada jalur East-West Pipeline mengalami gangguan yang mengurangi aliran sekitar 700.000 barel per hari.
Fasilitas produksi di lapangan Manifa dan Khurais juga terdampak, masing‑masing mencatat penurunan produksi sekitar 300.000 barel per hari.
Secara agregat, total penurunan kapasitas produksi Saudi diperkirakan mencapai 600.000 barel per hari.
Insiden tersebut menelan korban satu personel keamanan industri dan melukai tujuh pekerja lainnya.
Pencurian pasokan ini memperparah ketegangan pasar minyak yang sudah tertekan oleh gangguan di Selat Hormuz.
Pemerintah Saudi belum mengumumkan penyebab pasti serangan, namun menegaskan kesiapan mempertahankan stabilitas pasokan.
Pada saat yang sama, Presiden Indonesia Prabowo Subianto dijadwalkan mengunjungi Kremlin untuk bertemu Presiden Vladimir Putin.
Pertemuan tersebut diperkirakan akan membahas kerja sama energi, termasuk potensi pembelian minyak mentah Rusia.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menekankan bahwa proyek kilang bersama Rosneft‑Pertamina di Tuban dapat menjadi agenda utama.
Bahlil juga menyebutkan opsi impor minyak Rusia sebagai alternatif untuk menggantikan sekitar 20 persen pasokan yang biasanya melewati Selat Hormuz.
Rusia melalui Duta Besarnya, Sergei Tolchenov, menyatakan kesiapan memasok minyak dan gas kepada mitra, termasuk negara yang tidak bersahabat, asalkan ada permintaan resmi.
Indonesia telah memulai pembelian minyak mentah dari Amerika Serikat, namun masih mencari diversifikasi sumber energi.
Para analis menilai bahwa pembelian minyak Rusia dapat menurunkan ketergantungan Indonesia pada jalur laut yang rawan konflik.
Namun, keputusan tersebut harus mempertimbangkan sanksi internasional dan dampak geopolitik yang lebih luas.
Sementara itu, Iran mengklaim serangan terhadap pipa East-West sebagai balasan atas penutupan Selat Hormuz.
Iran menegaskan bahwa akses kapal ke selat harus melalui izin khusus, menambah tekanan pada produsen minyak Teluk.
Para pengamat memperingatkan bahwa gabungan serangan terhadap infrastruktur Saudi dan ketegangan di Hormuz dapat menurunkan pasokan minyak dunia hingga beberapa juta barel per hari.
Situasi ini menuntut respons koordinasi internasional untuk menjaga kestabilan pasar energi global.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan