Media Kampung – Kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang ditandatangani pada 17 Juni 2026 di Istana Versailles, Prancis, membawa harapan baru bagi stabilitas Timur Tengah. Namun, di balik optimisme tersebut, terdapat tiga tantangan rumit yang berpotensi menggagalkan implementasi perjanjian ini: sikap Israel, keberlanjutan proyek nuklir Iran, dan krisis di Selat Hormuz. Ketiga isu ini saling terkait dan menjadi batu sandungan yang tidak mudah diatasi.

Selat Hormuz menjadi salah satu poin krusial dalam kesepakatan. Jalur pelayaran ini merupakan urat nadi energi global, dengan sekitar 20 juta barel minyak per hari melintasinya. Selama konflik, Iran dan AS saling memblokade, menyebabkan gangguan pasokan yang memicu lonjakan harga minyak. Dalam MoU yang ditandatangani, kedua pihak sepakat membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 30 hari di bawah pengaturan keamanan Iran, serta AS mengakhiri blokade terhadap pelabuhan Iran. Namun, Presiden Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol memperingatkan bahwa krisis Hormuz telah mengubah peta energi global secara permanen. Ia menyatakan bahwa kepercayaan dan diversifikasi pasokan kini menjadi prioritas, dan pemulihan jalur pelayaran saja tidak cukup untuk mengembalikan situasi seperti semula.

Isu nuklir Iran juga menjadi titik rawan. Meskipun kesepakatan mencakup penghentian pengembangan senjata nuklir, detail teknis dan verifikasi masih belum jelas. Iran selama ini bersikukuh bahwa program nuklirnya untuk tujuan damai, namun Israel dan negara-negara Barat mencurigai adanya ambisi militer. Ketidakjelasan ini dapat memicu ketegangan baru, terutama jika Iran dianggap melanggar komitmen.

Yang paling pelik adalah posisi Israel. Kesepakatan AS-Iran ditandatangani tanpa melibatkan Israel, yang selama ini menjadi lawan utama Iran di kawasan. Israel menganggap Iran sebagai ancaman eksistensial dan telah berulang kali mengancam akan mengambil tindakan militer untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Absennya Israel dalam perundingan menimbulkan dilema: apakah Israel akan menerima kesepakatan ini atau justru berusaha menggagalkannya? Para analis menilai bahwa tanpa dukungan Israel, implementasi kesepakatan di lapangan akan sangat sulit, terutama terkait pengawasan dan penegakan.

Ketiga tantangan ini saling memengaruhi. Jika Israel melakukan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran, maka kesepakatan bisa runtuh dan Selat Hormuz kembali terancam. Sebaliknya, jika Iran melanjutkan program nuklirnya secara diam-diam, AS dan sekutunya mungkin akan memberlakukan sanksi baru, yang berujung pada kegagalan perjanjian. Sementara itu, pemulihan penuh Selat Hormuz membutuhkan jaminan keamanan yang dipercaya semua pihak, termasuk Israel dan negara-negara Teluk.

Dengan demikian, meskipun kesepakatan AS-Iran merupakan langkah diplomatik bersejarah, keberhasilannya masih dipertanyakan. Tiga variabel—Israel, nuklir, dan Hormuz—harus dikelola dengan hati-hati agar perdamaian yang diharapkan benar-benar terwujud.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.