Media Kampung – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengisyaratkan kemungkinan operasi militer terhadap Kuba, setelah sebelumnya menargetkan Venezuela dan Iran. Dalam wawancara dengan Axios pada Jumat, 19 Juni 2026, Trump mengatakan bahwa intervensi militer ke Kuba “mungkin saja” terjadi, menandai eskalasi ketegangan antara Washington dan Havana yang telah berlangsung selama lebih dari enam dekade.

Kuba merupakan pulau yang terletak sekitar 150 kilometer dari pesisir Florida, Amerika Serikat, dan selama ini menjadi simbol perlawanan terhadap tekanan AS. Pernyataan Trump ini muncul hanya beberapa bulan setelah pemerintahannya memperketat sanksi ekonomi terhadap Kuba, termasuk penetapan tarif impor terhadap negara-negara yang memasok minyak ke Kuba dan pengumuman keadaan darurat terkait dugaan ancaman Kuba terhadap keamanan nasional AS.

Trump menilai operasi militer ke Kuba bisa berlangsung lebih cepat dibandingkan dengan operasi di Timur Tengah, seperti Iran, karena faktor geografis yang lebih menguntungkan. Ia juga menyebutkan bahwa Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, akan “sangat” terlibat dalam isu Kuba, menunjukkan fokus khusus pemerintah AS terhadap kebijakan terhadap negara komunis tersebut.

Namun, Trump juga mengklaim bahwa Kuba “sangat ingin” berdialog dengan Amerika Serikat, meski hubungan kedua negara selama ini tidak pernah benar-benar normal. Wakil Presiden AS, J.D. Vance, menambahkan bahwa penanganan isu Kuba masih dalam tahap diskusi dan merupakan kewenangan Menteri Luar Negeri Marco Rubio.

Tekanan AS terhadap Kuba semakin meningkat setelah Departemen Kehakiman AS mendakwa mantan Presiden Kuba, Raul Castro, dan beberapa personel militer atas tuduhan penembakan jatuh dua pesawat yang terkait dengan kelompok eksil Kuba di Miami pada tahun 1996. Kuba menanggapi tuduhan tersebut sebagai provokasi politik dan menegaskan hak membela diri atas pelanggaran ruang udaranya.

Langkah-langkah sanksi dan embargo AS telah memperparah kelangkaan bahan bakar di Kuba, berdampak pada berbagai sektor seperti pembangkit listrik, transportasi, produksi pangan, layanan kesehatan, dan pendidikan di pulau tersebut. Pemerintah Kuba menuduh AS memanfaatkan embargo energi untuk mencekik ekonomi dan memperburuk kondisi kehidupan masyarakat.

Situasi ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai kemungkinan intervensi militer AS di Kuba yang akan membawa konsekuensi besar bagi stabilitas kawasan Laut Karibia dan hubungan internasional di sekitarnya. Dengan latar belakang sejarah panjang ketegangan dan embargo, perkembangan kebijakan AS terhadap Kuba akan menjadi sorotan utama dalam beberapa bulan mendatang.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.