Media Kampung – Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama mendorong penguatan kedaulatan maritim Indonesia dengan pendekatan riset dan inovasi yang berbasis potensi kelautan nasional. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi Indonesia di kancah global melalui pengembangan ilmu dan teknologi kelautan yang berkelanjutan.

Dalam acara National Policy Dialogue yang digelar di Balai Senat UGM pada 22 Mei 2024, Kepala BRIN, Prof. Dr. Arif Satria, menekankan pentingnya sektor maritim sebagai paradigma pembangunan nasional. Ia menyatakan bahwa riset oseanografi dan biodiversitas laut harus diperkuat agar Indonesia mampu berperan aktif dalam negosiasi di tingkat dunia terkait sumber daya laut.

Arif juga menyoroti peran penting pengetahuan lokal masyarakat pesisir yang selama ini hidup berdampingan dengan laut. Ia menegaskan bahwa pengalaman empiris masyarakat tersebut harus diintegrasikan dengan sains modern untuk menghasilkan inovasi yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Sementara itu, Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., menggarisbawahi peran hilirisasi riset kelautan sebagai kunci dalam memperkuat kedaulatan maritim. Ova menilai kekayaan biodiversitas laut Indonesia bukan sekadar aset alam, melainkan sumber pengetahuan dan inovasi yang berpotensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan industri nasional.

Namun, Ova mengakui bahwa tantangan utama perguruan tinggi adalah mengimplementasikan hasil riset secara nyata, bukan hanya berhenti pada dokumen akademik. Oleh karena itu, ia berharap BRIN dapat menjadi penghubung yang mendorong penerapan riset dan inovasi yang dihasilkan oleh para akademisi.

UGM menyatakan kesiapan untuk menjadi mitra strategis pemerintah serta lembaga lain dalam membangun sektor maritim yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing di tingkat global. Pernyataan ini mencerminkan komitmen universitas dalam mendukung pembangunan ekonomi biru Indonesia.

Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Kerja Sama UGM, Dr. Danang Sri Hadmoko, menyampaikan bahwa kekayaan hayati laut Indonesia merupakan modal besar yang tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga sebagai sumber pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi masa depan. Ia mengungkapkan bahwa riset kelautan di UGM kini berkembang dari inventarisasi spesies menuju kajian genomik, bioinformatika, dan environmental DNA.

Danang menambahkan, UGM tengah mengembangkan berbagai riset bioprospeksi laut, termasuk pemanfaatan mikroalga untuk biofuel, bioremediasi, kosmetik, dan farmasi. Riset-riset ini diarahkan untuk mendukung transisi energi, menjaga kesehatan lingkungan, serta memperkuat ekonomi biru Indonesia.

Kolaborasi antara UGM dan BRIN ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas riset kelautan nasional, sekaligus membuka peluang inovasi yang berdampak langsung pada kedaulatan dan kesejahteraan masyarakat pesisir. Upaya ini menjadi bagian dari strategi nasional dalam menghadapi berbagai tantangan global seperti persoalan pangan, energi, dan geopolitik.

Dengan sinergi riset dan inovasi, Indonesia dapat memperkokoh pengelolaan sumber daya laut secara berkelanjutan sekaligus meningkatkan posisi tawar di forum internasional. Kerjasama ini juga menegaskan pentingnya pendekatan multidisipliner yang menggabungkan ilmu pengetahuan modern dengan kearifan lokal masyarakat pesisir sebagai fondasi pembangunan maritim Indonesia ke depan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.