Media Kampung – Acha Septriasa, aktris ternama Indonesia, kini tengah menapaki babak baru dalam karier dan kehidupannya. Kisah Acha Septriasa berjuang dirikan rumah produksi pasca cerai menjadi inspirasi bagi banyak orang, terutama perempuan yang menghadapi berbagai stigma dan tantangan dalam kehidupan pribadi dan profesional mereka.
Di tengah proses perceraian yang cukup berat, Acha memutuskan untuk mendirikan Avarta Media, sebuah rumah produksi yang tidak hanya berfokus pada produksi film, tetapi juga pengembangan bisnis melalui pendanaan strategis. Langkah ini diambil sebagai bentuk komitmen Acha untuk membangun masa depan yang lebih stabil dan berkelanjutan bagi buah hatinya, tanpa harus bergantung sepenuhnya pada profesi akting yang selama ini menjadi sumber penghasilan utamanya.
“Setelah aku di Qodrat, aku sedang dalam proses perpisahan. Aku sudah janji ke diri sendiri, aku harus bisa menjaga anak dan menjalani bisnis yang lebih sustainable,” ungkap Acha saat ditemui di kantor IDN pada akhir Mei 2026. Bersama dengan pengusaha Ardi dan Arya Setiadharma, ia mendirikan Avarta Media yang kini mulai melebarkan sayap di industri kreatif Indonesia.
Terjun sebagai produser membuat Acha menyadari betapa kompleks dan melelahkannya pekerjaan di balik layar. Mulai dari pengelolaan anggaran besar, negosiasi kontrak, pencarian talent, hingga pengurusan izin lokasi syuting, menjadi tanggung jawab yang harus ia emban dengan penuh kesungguhan. Pengalaman ini mengubah sudut pandangnya terhadap kru produksi yang selama ini jarang ia perhatikan secara mendalam.
“Kalau di depan layar, aku tahu cuma saat reading dan syuting. Tapi ternyata untuk menyiapkan fasilitas seperti tenda lokasi, visa, license, dan surat ke kepolisian itu prosesnya panjang sekali. Aku makin menghargai kerja keras tim produksi,” tutur Acha dengan penuh rasa kagum.
Kisah Acha Septriasa berjuang dirikan rumah produksi pasca cerai tidak hanya berkutat pada aspek bisnis dan karier. Perannya sebagai ibu sekaligus sosok perempuan yang pernah mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) juga menambah kedalaman perjuangannya. Saat membintangi film “Suamiku Lukaku” yang mengangkat tema KDRT dan pelecehan seksual, Acha banyak mendapatkan pemahaman baru mengenai stigma sosial yang menimpa perempuan.
Menurutnya, perempuan seringkali dituntut untuk menutupi aib rumah tangga, meskipun mereka menjadi korban KDRT, padahal kasus tersebut merupakan tindak pidana serius. “Perempuan dianggap harus anggun dan menjaga citra keluarga, bahkan ketika mengalami kekerasan. Tugas terberat istri adalah sabar, tapi sabar itu tidak boleh dimanfaatkan untuk menutupi kekerasan,” ujarnya.
Selain itu, Acha juga menolak stigma bahwa perempuan tidak boleh ambisius atau menonjol. Baginya, ambisi adalah hal penting untuk pengembangan diri dan mencapai tujuan hidup. Ia membuktikan hal tersebut melalui perannya sebagai ibu yang aktif, memasak bekal dan mengantar anak ke sekolah sendiri, sekaligus mengelola bisnis dan karier seni.
“Ambisi aku tidak harus muluk, tapi aku ingin hadir untuk anakku dan memberikan yang terbaik. Itu membuat aku bahagia dan punya tujuan hidup,” kata Acha. Ia juga mengaku tantangan emosional saat syuting dengan anak kecil di film “Suamiku Lukaku” sangat besar, terutama karena kondisi pribadinya yang sedang tidak stabil.
Kisah Acha Septriasa berjuang dirikan rumah produksi pasca cerai menjadi bukti nyata bahwa perempuan mampu bangkit dari keterpurukan dan menciptakan masa depan yang lebih baik. Dengan kerja keras di belakang layar dan keberanian menghadapi stigma sosial, Acha menunjukkan bahwa perempuan berhak memiliki ambisi dan peran lebih luas dalam kehidupan.
Perjalanan Acha tidak hanya menginspirasi lewat kariernya, tetapi juga melalui sikapnya yang tegar sebagai seorang ibu dan perempuan yang berani memperjuangkan hak serta masa depan anaknya. Dari pengalaman hidupnya tersebut, Acha mengajak perempuan lain untuk tidak takut bermimpi dan terus berjuang demi kebahagiaan dan keberhasilan mereka sendiri.
Dengan segala perjuangan dan dedikasinya, kisah Acha Septriasa berjuang dirikan rumah produksi pasca cerai ini menjadi contoh penting bagi dunia hiburan dan masyarakat luas bahwa di balik layar kesuksesan terdapat kerja keras, keteguhan hati, dan semangat pantang menyerah yang patut diapresiasi.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan