Media Kampung – Kehadiran Steam Machine generasi terbaru dari Valve awalnya disambut antusias oleh komunitas PC gaming. Perangkat berbasis SteamOS ini diharapkan menjadi solusi bagi gamer yang ingin menikmati pengalaman PC di ruang keluarga. Namun, antusiasme berubah menjadi kekecewaan setelah harga resmi diumumkan.

Harga Resmi dan Reaksi Pasar

Steam Machine dibanderol mulai dari 1.049 dolar AS untuk model 512 GB, sementara varian 2 TB dijual seharga 1.349 dolar AS. Harga tersebut belum termasuk Steam Controller generasi terbaru yang dijual terpisah seharga 79 dolar AS. Angka ini jauh di atas kisaran harga konsol modern seperti PlayStation 5 atau Xbox Series X, memicu kekecewaan di kalangan gamer.

Valve Akui Harga Terlalu Tinggi

Menariknya, Valve sendiri mengakui bahwa harga tersebut bukan skenario yang mereka inginkan. Dalam wawancara dengan PC Gamer, insinyur Valve Pierre-Loup Griffais dan Yazan Aldehayyat menyatakan bahwa jika ada satu hal yang ingin mereka ubah, jawabannya adalah “membuatnya lebih murah.” Mereka mengungkapkan bahwa lonjakan harga komponen memori dan penyimpanan global membuat biaya produksi meningkat jauh di luar perkiraan.

Krisis Pasokan Global Jadi Penyebab

Menurut laporan The Verge, krisis pasokan RAM dan SSD yang melanda industri teknologi sepanjang 2026 menjadi penyebab utama kenaikan harga. Permintaan memori dari industri kecerdasan buatan dan pusat data berskala besar menyebabkan harga komponen melonjak tajam, sehingga produsen komputer, termasuk Valve, harus menyesuaikan harga jual produknya.

Strategi Harga Berbeda dengan Konsol

Valve juga menjelaskan bahwa mereka sengaja tidak menerapkan strategi subsidi seperti yang dilakukan produsen konsol tradisional. Perusahaan tetap mempertahankan filosofi PC gaming yang terbuka (open ecosystem), sehingga Steam Machine dijual mendekati biaya produksinya. Berbeda dengan produsen konsol yang rela menjual perangkat dengan margin tipis atau bahkan rugi untuk memperoleh keuntungan dari penjualan game dan layanan berlangganan, Valve memilih tidak mengunci pengguna ke dalam ekosistem tertutup.

Performa dan Perbandingan dengan PC Rakitan

Meskipun mendapat pujian dari sisi desain dan pengalaman menggunakan SteamOS, harga yang tinggi membuat banyak media teknologi mempertanyakan nilai yang ditawarkan. Dalam ulasannya, PC Gamer menyebut Steam Machine memiliki kualitas rakitan yang sangat baik dan bekerja dengan senyap, tetapi performanya dinilai belum mampu menyaingi PC gaming dengan harga yang sama. Akibatnya, banyak calon pembeli memilih merakit PC sendiri karena dianggap memberikan performa lebih tinggi dengan biaya serupa.

Fenomena Scalping Memperparah Situasi

Kekecewaan komunitas semakin besar ketika muncul praktik scalping. Dilansir dari Toms Hardware, sejumlah penjual mulai menawarkan hak pre-order Steam Machine di situs lelang dengan harga mencapai 3.000 dolar AS, hampir tiga kali lipat dari harga resmi. Kondisi ini memicu kritik dari komunitas yang menilai perangkat tersebut semakin sulit dijangkau oleh gamer biasa.

Optimisme Valve dan Masa Depan SteamOS

Meski demikian, Valve tetap optimistis terhadap masa depan Steam Machine. Perusahaan menilai perangkat ini bukan ditujukan untuk menggantikan konsol, melainkan menjadi alternatif bagi pengguna yang menginginkan pengalaman PC gaming di ruang keluarga dengan dukungan penuh SteamOS dan kebebasan ekosistem PC. Valve juga menegaskan bahwa SteamOS tetap dapat dipasang secara gratis pada PC lain yang kompatibel, sehingga pengguna tidak diwajibkan membeli Steam Machine untuk menikmati sistem operasi tersebut.

Bagi banyak gamer, Steam Machine tetap menawarkan konsep yang menarik. Namun, harga yang jauh di atas ekspektasi membuat perangkat ini menuai kritik sejak hari pertama pengumumannya. Kini, tantangan terbesar Valve bukan lagi meyakinkan pemain tentang kualitas produknya, melainkan membuktikan bahwa harga yang tinggi tersebut sepadan dengan pengalaman bermain yang ditawarkan.


Artikel ini telah ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Media Kampung.