Media Kampung, Stagnasi upah riil di Taiwan mendorong semakin banyak pekerja meninggalkan pekerjaan formal dan beralih ke sektor ekonomi gig. Sebuah survei pada Februari 2025 oleh portal lowongan Yes123 menemukan bahwa 60 persen pekerja tidak menerima kenaikan gaji dalam tiga tahun terakhir, sementara 12 persen bahkan tidak mendapat penyesuaian upah selama satu dekade.
Fenomena ini tidak lepas dari persaingan industri manufaktur dan jasa tradisional Taiwan dengan Republik Rakyat Tiongkok (RRT), serta dampak tarif yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump terhadap produk Taiwan. Di luar industri chip yang masih tumbuh, perekonomian Taiwan perlahan tergerus.
Menurut laporan TVBS 2023, seorang pekerja lepas bernama Cheng Min-chih mampu meningkatkan penghasilan bulanannya dari NT$24.000 menjadi NT$60.000 setelah beralih ke pekerjaan gig. Namun, di balik angka tersebut, para peneliti memperingatkan risiko yang mengintai.
Data Direktorat Jenderal Anggaran, Akuntansi, dan Statistik (DGBAS) menunjukkan bahwa kesenjangan kekayaan rumah tangga di Taiwan meningkat hampir empat kali lipat dalam 30 tahun terakhir. Pada 2021, 20 persen rumah tangga terkaya memiliki kekayaan 66,9 kali lebih besar dibandingkan 20 persen termiskin, naik drastis dari 16,8 kali pada 1991.
Pada 2024, DGBAS mencatat lebih dari 800.000 orang bekerja di sektor non-tradisional. Sementara itu, laporan Reuters menyebutkan bahwa jumlah pekerja fleksibel di China mencapai 320 juta jiwa, sekitar 44 persen dari total angkatan kerja.
Para peneliti menemukan bahwa meskipun pekerja paruh waktu dan gig di Taiwan bisa mendapatkan upah per jam yang lebih tinggi, mereka menghadapi volatilitas pendapatan yang lebih besar serta akses terbatas terhadap perlindungan sosial seperti pensiun, asuransi tenaga kerja, dan kompensasi kecelakaan kerja. Hal ini berpotensi menjerumuskan mereka ke kemiskinan di masa tua.
Sebuah penelitian yang dipimpin Cheng Ya-wen dari National Taiwan University (NTU) terhadap 487 pekerja gig berbasis lokasi menyimpulkan bahwa manajemen algoritmik meningkatkan stres pekerja saat mereka berusaha memenuhi metrik kinerja platform.
Laporan United Nations Development Programme (UNDP) tahun ini juga menyoroti kesenjangan gender di sektor gig, di mana perempuan terkonsentrasi pada pekerjaan perawatan dan mikro dengan upah lebih rendah, sementara laki-laki mendominasi pekerjaan pengiriman dan pengemudi yang lebih tinggi bayarannya.
Menurut laporan Taiwan.Md, masalah struktural ini dipicu oleh upah stagnan yang berbenturan dengan kenaikan sewa dan biaya hidup. Upah median di Taiwan kurang dari NT$40.000 dan upah awal di bawah NT$35.000, sementara sewa studio apartemen di Taipei rata-rata NT$14.000. Artinya, pekerja muda harus mengeluarkan sekitar 40 persen gajinya hanya untuk sewa. Setelah bekerja formal, banyak anak muda yang melanjutkan dengan mengantar makanan atau bekerja lepas di akhir pekan sebagai strategi bertahan hidup.




















Tinggalkan Balasan