Media Kampung – Integrasi ekonomi berbasis gotong royong dan penguatan kebudayaan lokal menjadi fokus utama dalam peringatan Hari Kebangkitan Nasional dan Refleksi Mei Reformasi yang diadakan Padepokan Tjakra Poetra Padjadjaran di Cianjur, Rabu, 20 Mei 2026.
Acara ini dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, termasuk pegiat budaya, pemuda lintas komunitas, seniman, serta perwakilan masyarakat adat dari berbagai daerah seperti Aceh, Bali, Makassar, dan Bandung. Generasi milenial dan Gen Z juga turut aktif menjadi bagian penting dalam menjaga dan mengembangkan semangat kebangkitan nasional di era modern.
Direktur Eksekutif Intelligence and National Security Studies (INSS) Stepi Anriani memberikan dukungan melalui perwakilannya, Sanik, Sekretaris INSS, dalam menegaskan pentingnya penguatan nilai kebangsaan, persatuan, dan pelestarian budaya di tengah dinamika geopolitik dan ekonomi global yang semakin kompleks.
Tedi Subarkah, Kasepuhan Tjakra Poetra Padjadjaran, menekankan bahwa nilai gotong royong yang menjadi bagian dari kearifan lokal Indonesia sangat relevan untuk menghadapi tantangan global saat ini. Menurutnya, integrasi ekonomi tidak hanya soal memperluas pasar, tetapi juga strategi memperkuat ketahanan komunitas lokal.
Para pembicara lain menegaskan pentingnya model ekonomi yang kolaboratif, terutama antara pelaku usaha kecil, koperasi, dan jaringan sosial, sebagai fondasi untuk menghadapi tekanan global yang terus berubah. Offan Soffarudin, Sekretaris Dinas Kebudayaan Cianjur, menyampaikan bahwa budaya Pasundan memiliki nilai-nilai kuat seperti silih asih, silih asah, dan silih asuh yang menjadi pilar penting dalam kebangkitan.
Ketua pelaksana acara sekaligus perwakilan kaum muda, M Alwan Rasyid Putra Robiansyah, menyatakan bahwa kemajuan teknologi tidak boleh membuat budaya lokal terlupakan. Ia menekankan pentingnya menjaga jati diri bangsa di tengah perkembangan zaman.
Tedi dan Alwan sepakat bahwa tantangan saat ini bukan lagi penjajahan fisik, melainkan ancaman provokasi yang dapat memecah belah persatuan. Tedi menegaskan, “Kebangkitan itu bukan menunggu orang lain, tapi diri kita sendiri harus unggul dan berkreasi tanpa melupakan jati diri.”
Selain diskusi, acara juga dimeriahkan dengan pertunjukan seni tradisional dan Perguruan Silat Kanca Satya yang memperkuat identitas lokal. Orasi tentang makna kebangsaan menggugah kesadaran kolektif peserta, sementara musikalisasi puisi mengangkat tema perjuangan dan refleksi reformasi. Kegiatan ini juga diwarnai dengan aksi bakti sosial sebagai wujud nyata semangat gotong royong di masyarakat.
Di akhir acara, peserta bersama-sama mendeklarasikan komitmen menolak segala bentuk anarkisme dan bertekad menjaga persatuan. Deklarasi ini menggambarkan bahwa kebangkitan generasi muda tidak hanya sekadar gagasan, melainkan diwujudkan dalam sikap dan tindakan konkret.
Melalui rangkaian kegiatan ini, Padepokan Tjakra Poetra Padjadjaran menegaskan bahwa kebangkitan bangsa harus berlandaskan kekuatan lokal, mulai dari ekonomi komunitas, nilai gotong royong, hingga pelestarian budaya yang didukung peran aktif generasi muda dalam menjaga persatuan di tengah tantangan global.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan