Media Kampung, Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) di era digital telah bermutasi menjadi kecemasan finansial yang akut, dikenal sebagai Financial FOMO. Ketakutan tertinggal tren membuat banyak anak muda mengambil keputusan ekonomi impulsif dan berbahaya, seperti nekat menguras tabungan, terjebak investasi bodong, hingga terjerat pinjaman online (pinjol) ilegal.

Paparan konten dari influencer finansial (finfluencer) yang memamerkan kekayaan instan menciptakan ekspektasi keliru. Keputusan investasi tidak lagi berdasarkan analisis fundamental atau profil risiko, melainkan karena takut dikucilkan dari pergaulan. Celah psikologis ini dimanfaatkan pelaku kejahatan dengan menawarkan judi online atau aplikasi trading ilegal sebagai jalan pintas.

Financial FOMO juga merusak pola konsumsi sehari-hari. Media sosial mengubah perilaku konsumtif dari pemenuhan kebutuhan menjadi ajang pamer status. Fitur PayLater dan pinjol hadir sebagai “pahlawan” bagi mereka yang tidak memiliki bantalan finansial. Mereka rela menggadaikan pendapatan bulan depan demi validasi sesaat di media sosial, sementara tagihan berbunga tinggi akan membebani selama berbulan-bulan.

Untuk menyelamatkan generasi muda dari kebangkrutan, literasi keuangan saja tidak cukup. Diperlukan literasi emosional, yaitu kemampuan merasakan Joy of Missing Out (JOMO) — bahagia meski tidak ikut setiap tren. Orang tua, institusi pendidikan, dan regulator siber harus lebih tegas mengawasi promosi gaya hidup tidak sehat dan iklan pinjaman instan yang mengeksploitasi kecemasan anak muda.

Pada akhirnya, stabilitas ekonomi pribadi bukanlah tentang gengsi atau kecepatan mengikuti tren, melainkan kemampuan tidur tenang tanpa beban utang di masa tua. Generasi muda perlu menundukkan kepala, melihat isi dompet sendiri dengan jujur, dan melangkah sesuai kemampuan, bukan berdasarkan ilusi kesuksesan orang lain di layar ponsel.


Artikel ini telah ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Media Kampung.