Media Kampung – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa kekuatan ekonomi menjadi prioritas utama dalam upaya menjadikan umat Islam mandiri. Pernyataan ini disampaikan dalam refleksi Tahun Baru Islam 1448 Hijriah yang disiarkan melalui YouTube Muhammadiyah Channel pada Senin, 15 Juni 2026.
Menurut Haedar, spirit hijrah tidak sekadar seremonial, melainkan perubahan menuju kondisi yang lebih baik, termasuk membangun kemandirian umat. Ia mengakui bahwa umat Islam Indonesia yang mayoritas masih lemah di bidang ekonomi dan politik, sehingga daya tawar terhadap pihak dominan masih rendah.
“Umat Islam Indonesia mayoritas di negeri ini. Tetapi jujur harus kita akui, secara ekonomi dan politik masih lemah sehingga tidak memiliki daya tawar yang tinggi terhadap berbagai pihak yang memiliki kekuatan dominasi dan hegemoni,” ujar Haedar.
Ia menekankan bahwa kemandirian berarti kemampuan berdiri sendiri dengan berani dan bertanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan umat di berbagai bidang. Penguatan sektor pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi kunci.
Haedar mengingatkan umat Islam agar tidak antipati terhadap aktivitas ekonomi dan bisnis. Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) perlu terus diberdayakan, namun umat juga harus mulai menggarap sektor-sektor strategis seperti industri, perkebunan, pertambangan, dan teknologi informasi secara profesional.
“Jangan terus berkontroversi atau berdebat dan saling mempersoalkan tentang aktivitas ekonomi dan bisnis. Apalagi menolak bisnis berskala besar dan strategis hanya karena terdapat praktik-praktik pihak lain yang kotor dan menimbulkan dampak perusakan,” tegasnya.
Haedar menutup pernyataannya dengan ajakan agar umat Islam bergerak di sektor ekonomi, bisnis, dan wirausaha, baik skala mikro, kecil, menengah, maupun besar dan strategis, demi mewujudkan kemandirian yang lebih kokoh.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan