Media Kampung – Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, baru-baru ini mengumumkan perampasan aset mata uang kripto Iran senilai hingga 1 miliar dolar AS. Langkah ini merupakan bagian dari upaya AS untuk merampas aset-aset terkait Teheran dan memulihkan dana yang dicuri dari rakyat Iran.

Sementara itu, di Indonesia, nilai tukar rupiah semakin melemah terhadap dolar Amerika Serikat, yang kini mencapai level Rp 17.900. Melemahnya rupiah ini dipicu oleh berbagai faktor, termasuk defisit neraca transaksi berjalan yang bergantung pada impor energi.

Ketua DPD Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Bali, I Putu Winastra, mengungkapkan bahwa penguatan dolar AS memberikan peluang bagi industri pariwisata. Dia mendorong pelaku usaha untuk menjual paket wisata dalam dolar AS, karena akan lebih menguntungkan dibandingkan menjual dalam rupiah.

Namun, kondisi ini juga menghadirkan tantangan, terutama terkait kebutuhan barang impor yang semakin mahal. Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata, Ni Made Ayu Marthini, menyatakan bahwa pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya bahan makanan dan kebutuhan hotel.

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa tekanan terhadap nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh ketidakpastian global dan peningkatan kebutuhan valas secara musiman. Bank Indonesia berkomitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi pasar dan penguatan kebijakan moneter.

Dengan situasi ini, banyak pengamat memprediksi bahwa nilai tukar rupiah dapat menembus Rp 18.000 terhadap dolar AS dalam waktu dekat. Meskipun Menteri Keuangan Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, optimis untuk mendorong rupiah kembali ke level Rp 15.000, banyak pihak meragukan kemungkinan tersebut.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.