Media Kampung – Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Arif Satria, mengajak Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH) untuk bertransformasi menjadi innovation university sebagai strategi utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional melalui inovasi dan kewirausahaan. Hal ini disampaikan dalam pembukaan Majelis Senat Akademik PTNBH yang digelar di Surakarta pada 21 Mei 2026.

Prof. Arif menekankan bahwa masa depan ekonomi negara sangat bergantung pada kekuatan inovasi yang tercermin dalam Global Innovation Index (GII). Semakin tinggi skor GII suatu negara, semakin besar pula kesejahteraan dan produk domestik bruto per kapita yang dimiliki. Ia mencontohkan keberhasilan Tiongkok dan Korea Selatan yang memanfaatkan bonus demografi dengan menguatkan riset dan inovasi di perguruan tinggi untuk mencapai kemajuan ekonomi yang pesat.

Innovation university, menurut Prof. Arif, tidak hanya berfokus pada menghasilkan lulusan dan publikasi ilmiah, tetapi juga harus mampu menghasilkan inovasi yang memberikan kontribusi ekonomi dan sosial. Perguruan tinggi perlu mengembangkan riset terapan, memperkuat kolaborasi dengan industri, membangun fasilitas pilot plant, serta menumbuhkan semangat kewirausahaan teknologi dan sosial di lingkungan akademik.

Prof. Arif menambahkan bahwa spirit kewirausahaan harus menyebar mulai dari institusi, birokrasi kampus, dosen, peneliti, mahasiswa, hingga alumni agar perguruan tinggi benar-benar menjadi pusat lahirnya inovasi. Namun, ia juga menyoroti rendahnya investasi riset di Indonesia yang masih di bawah 0,3 persen dari GDP, yang berdampak pada jumlah paten nasional yang relatif kecil dibandingkan negara lain seperti Tiongkok yang telah mendaftarkan sekitar 1,8 juta paten pada 2024.

Untuk meningkatkan daya saing nasional, BRIN tengah mengembangkan skema pendanaan riset berkelanjutan melalui BRIN Research Trust Fund yang tidak sepenuhnya bergantung pada APBN. Selain itu, BRIN juga membangun ekosistem inovasi nasional melalui program Rumah Inovasi Indonesia dan Rumah Inovasi Daerah yang menyediakan layanan inovasi, inkubasi teknologi, pengelolaan kekayaan intelektual, serta menjembatani inovator dengan modal ventura.

Kepala BRIN juga menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam penguatan ekosistem inovasi daerah. Sumber daya peneliti, talenta, dan kreativitas kampus menjadi fondasi penting untuk mengembangkan riset yang berdampak di tingkat lokal. Dalam forum tersebut, ia mendorong pembentukan jabatan fungsional peneliti di perguruan tinggi agar akademisi dapat fokus pada kegiatan riset tanpa terbebani kewajiban mengajar secara penuh.

Majelis Senat Akademik PTNBH tahun 2026 ini dihadiri oleh pimpinan perguruan tinggi negeri badan hukum dari seluruh Indonesia dan berlangsung selama 21-23 Mei 2026 di Kota Surakarta. Ajang ini menjadi wadah penting untuk membahas arah pengembangan riset dan inovasi perguruan tinggi nasional demi mengoptimalkan bonus demografi dan mempercepat kemajuan ekonomi melalui inovasi akademik.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.