Media Kampung – Dolar Amerika Serikat (AS) kembali menguat dan mencatatkan kenaikan signifikan menuju pekan terbaiknya sejak Maret. Penguatan ini dipicu oleh ekspektasi pasar terkait kemungkinan kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat.

Pergerakan dolar yang menguat tersebut juga berimbas pada mata uang negara lain, termasuk rupiah yang melemah ke posisi Rp17.596 per dolar AS pada Jumat sore, 15 Mei 2026. Pelemahan rupiah ini mengikuti tren yang terjadi di sejumlah mata uang Asia lainnya yang juga tertekan akibat penguatan dolar dan kekhawatiran atas konflik yang sedang berlangsung antara Iran dan AS.

Selain rupiah, mata uang seperti peso Filipina, dolar Singapura, yuan China, yen Jepang, rupee India, won Korea Selatan, baht Thailand, dan ringgit Malaysia juga melemah. Bahkan, mata uang dari negara maju seperti poundsterling Inggris, dolar Australia, euro Eropa, dolar Kanada, dan franc Swiss mengalami penurunan nilai terhadap dolar AS.

Analis pasar uang Lukman Leong menjelaskan bahwa penguatan indeks dolar dan kenaikan imbal hasil obligasi AS merupakan respons pasar terhadap lonjakan harga minyak mentah dunia. Situasi geopolitik yang belum mereda, khususnya ketegangan di kawasan Teluk yang membuat jalur pelayaran di Selat Hormuz hampir tertutup, turut memicu kekhawatiran pasar.

Harga minyak Brent yang naik 7,8% sepanjang pekan ini hingga menembus di atas US$109 per barel, menjadi faktor utama yang mendongkrak inflasi dan menekan nilai tukar mata uang Asia. Lonjakan harga minyak tersebut berpotensi mendorong kenaikan suku bunga The Fed untuk menahan laju inflasi yang terus membebani pasar global.

Penguatan dolar AS juga berimbas pada harga emas yang turun sekitar 2% pada Jumat lalu. Naiknya imbal hasil obligasi AS dan penguatan dolar membuat emas yang tidak memberikan imbal hasil menjadi kurang menarik bagi investor. Spot emas sempat turun hingga US$1.546,45 per ons, level terendah sejak awal Mei.

Situasi pasar yang sarat ketidakpastian akibat konflik geopolitik dan data inflasi yang menunjukkan tekanan harga yang masih tinggi membuat pelaku pasar lebih memilih aset berdenominasi dolar yang dinilai lebih aman. Kondisi ini diperkirakan akan terus mempengaruhi dinamika nilai tukar mata uang dan pasar komoditas dalam waktu dekat.

Dengan perkembangan tersebut, rupiah dan mata uang Asia lainnya diperkirakan tetap akan menghadapi tekanan di tengah penguatan dolar AS dan ketidakpastian geopolitik yang belum mereda. Pasar global kini mengamati dengan ketat kebijakan The Fed serta perkembangan situasi di Timur Tengah sebagai faktor penentu arah pergerakan mata uang dan harga komoditas ke depan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.