Media Kampung – Rupiah tembus Rp 17.326 per dolar AS pada penutupan perdagangan Rabu, 29 April 2026, menandai level terendah baru dalam konteks geopolitik minyak global.

Penurunan 83 poin atau 0,48% itu dipicu utama oleh keputusan Uni Emirat Arab (UEA) resmi meninggalkan Organisasi Negara‑Negara Pengekspor Minyak (OPEC) yang berlaku mulai 1 Mei 2026.

Pengumuman tersebut menambah kekhawatiran pasar atas pasokan minyak dunia, mengingat UEA merupakan produsen minyak ketiga terbesar dalam blok OPEC.

Menurut Ibrahim Assuaibi, pengamat mata uang dan komoditas, pasar kini menilai langkah UEA sebagai pukulan besar bagi koordinasi produksi minyak di tengah konflik Iran.

Ia menambahkan, ‘Keputusan UEA mencerminkan kepentingan nasional yang lebih mengutamakan kebijakan fiskal masing‑masing, sehingga meningkatkan volatilitas harga energi.’

Sementara itu, blokade pelabuhan Iran yang diperkirakan akan diperpanjang oleh Amerika Serikat menambah tekanan suplai minyak dari Teluk.

Laporan Wall Street Journal menyebut Presiden AS Donald Trump telah menginstruksikan timnya untuk menyiapkan kebijakan lanjutan terhadap Iran, memperpanjang sanksi maritim.

Kebijakan tersebut berpotensi menutup arus minyak melalui Selat Hormuz, jalur yang menyuplai sekitar 20% kebutuhan minyak dan gas cair global.

Kombinasi faktor‑faktor tersebut memperkuat persepsi risiko di pasar valuta asing, khususnya bagi rupiah yang sensitif terhadap perubahan harga komoditas.

Bank Indonesia mencatat bahwa inflasi inti tetap berada di atas target, sehingga otoritas moneter belum dapat menurunkan suku bunga secara signifikan.

Pekan ini, Federal Reserve diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,5‑3,75 % dalam rapat kebijakan moneter yang dijadwalkan malam ini.

Keputusan Fed akan menjadi acuan penting bagi pergerakan rupiah, mengingat aliran modal internasional biasanya mengikuti kebijakan suku bunga AS.

Investor domestik juga mengkhawatirkan outlook negatif yang diberikan oleh Fitch Ratings terhadap utang Indonesia, terkait isu tata kelola dana Danantara.

Fitch menilai konsentrasi keputusan Danantara pada Presiden dapat menimbulkan risiko politik yang memengaruhi kepercayaan pasar.

Meskipun demikian, pemerintah menegaskan komitmen menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi pasar bila diperlukan.

Analisis teknikal menunjukkan level support terdekat berada di sekitar Rp 17.300, sementara resistance pertama berada di Rp 17.380.

Jika tekanan minyak terus berlanjut, rupiah dapat teruji kembali di bawah level 17.400 per dolar AS.

Sebaliknya, perbaikan situasi geopolitik atau kebijakan pelonggaran sanksi Iran dapat membantu mengembalikan nilai tukar ke zona 17.200‑17.250.

Pihak otoritas keuangan tetap memantau perkembangan OPEC, kebijakan energi AS, serta indikator inflasi domestik untuk menyesuaikan kebijakan moneter.

Dengan volatilitas yang masih tinggi, para pelaku pasar disarankan memperhatikan data ekonomi mingguan dan pernyataan resmi bank sentral sebagai acuan utama.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.