Media Kampung – Muhammadiyah Nomics menjadi inisiatif terbaru yang menggabungkan dakwah dengan ekonomi, bertujuan mengubah aktivitas keagamaan menjadi kekuatan pendorong kesejahteraan umat di Indonesia. Konsep ini dipaparkan oleh dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Ayif Fathurrahman, dalam ceramah Zuhur di Masjid KH Ahmad Dahlan pada 21 April 2026.

Ayif menekankan bahwa kekuatan utama Muhammadiyah terletak pada kemampuan membangun sistem ekonomi yang terstruktur, transparan, dan berdampak luas bagi masyarakat. Ia menambahkan bahwa ekonomi berbasis nilai agama dapat menciptakan jaringan usaha yang berkelanjutan dan inklusif.

Istilah “Muhammadiyah Nomics” merujuk pada pendekatan ekonomi yang mengintegrasikan nilai-nilai dakwah, etika Islam, dan prinsip-prinsip kewirausahaan modern. Pendekatan ini menekankan pemberdayaan UMKM, koperasi, serta lembaga keuangan syariah yang berakar pada komunitas pesantren dan masjid.

Sejarah panjang Muhammadiyah dalam bidang ekonomi dimulai sejak era pendirian pada 1912, ketika organisasi ini meluncurkan jaringan sekolah vokasi dan rumah sakit yang dikelola secara mandiri. Selama dekade terakhir, upaya tersebut berkembang menjadi jaringan bisnis sosial yang mencakup sektor pendidikan, kesehatan, dan pertanian.

Program unggulan yang dijadikan contoh meliputi pelatihan manajemen keuangan bagi pelaku usaha mikro, pendirian inkubator bisnis syariah di lima provinsi, serta skema pembiayaan mikro melalui Baitul Maal Muhammadiyah. Hingga akhir 2025, lebih dari 12.000 usaha kecil telah menerima dukungan dana dan pendampingan.

Data internal Muhammadiyah menunjukkan pertumbuhan nilai kontribusi ekonomi umat sebesar 18 persen dalam dua tahun terakhir, dengan peningkatan pendapatan rata-rata usaha yang terdaftar mencapai Rp 45 juta per tahun. Angka ini mencerminkan efektivitas model ekonomi berbasis nilai moral yang dijalankan oleh organisasi.

“Kekuatan Muhammadiyah terletak pada kemampuan kami membangun sistem ekonomi yang terstruktur dan berdampak luas,” ujar Ayif dalam ceramahnya, menegaskan pentingnya sinergi antara dakwah dan ekonomi untuk menciptakan kesejahteraan bersama.

Reaksi para peserta ceramah, yang mayoritas merupakan pengusaha UMKM dan aktivis sosial, sangat positif. Mereka menyatakan kesiapan untuk mengadopsi prinsip Muhammadiyah Nomics dalam usaha sehari-hari, khususnya dalam hal transparansi keuangan dan tanggung jawab sosial.

Jika dibandingkan dengan inisiatif serupa yang digalakkan oleh organisasi keagamaan lain, Muhammadiyah Nomics menonjol karena basis ilmiah dan dukungan akademik yang kuat, serta jaringan luas institusi pendidikan yang dapat menjadi pusat inovasi ekonomi.

Ke depan, Muhammadiyah berencana meluncurkan platform digital terintegrasi yang memfasilitasi pemasaran produk halal, akses kredit mikro, serta pelatihan bisnis berbasis e‑learning. Targetnya adalah menjangkau 50.000 pelaku usaha tambahan pada tahun 2027.

Dengan langkah tersebut, Muhammadiyah berharap dapat memperkuat ketahanan ekonomi umat, mengurangi tingkat kemiskinan, dan memperluas kontribusi sosial‑ekonomi di tingkat nasional. Hingga kini, program pilot di Yogyakarta telah menunjukkan peningkatan pendapatan rata-rata 22 persen bagi peserta.

Situasi terkini menunjukkan bahwa lebih dari 30 lembaga lokal telah mengadopsi model Muhammadiyah Nomics, sementara pemerintah daerah mulai mempertimbangkan kerjasama dalam program pemberdayaan ekonomi berbasis nilai agama.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.