Media Kampung – FGD Muslimat NU bersama Pemerintah merumuskan langkah strategis untuk mengatasi pengangguran terdidik, dengan fokus pada peluang kerja luar negeri dan pengembangan ekonomi digital. Pertemuan tersebut diadakan pada 18 April 2026 di Balai Rakyat Jakarta.

Acara yang diselenggarakan oleh Dewan Pimpinan Nasional Muslimat Nahdlatul Ulama ini dihadiri oleh Menteri Ketenagakerjaan Ahmad Riza Patria, serta perwakilan Kementerian Pendidikan dan Kementerian Komunikasi dan Informatika. Sekitar 150 peserta, termasuk perwakilan asosiasi alumni, perusahaan multinasional, dan organisasi pemuda, turut berkontribusi dalam diskusi.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan tingkat pengangguran lulusan sarjana mencapai 12,4% pada triwulan pertama 2026, menandakan peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini memicu keprihatinan pemerintah karena mengancam stabilitas ekonomi nasional.

Menteri Ketenagakerjaan menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen menurunkan angka tersebut melalui kebijakan penempatan tenaga kerja terampil ke pasar kerja internasional. Kebijakan ini diharapkan dapat menambah volume tenaga kerja terdidik yang terampil di luar negeri.

Ketua DPN Muslimat NU, Siti Nurul Aini, menyatakan bahwa peran perempuan terdidik sangat penting dalam mengurangi beban ekonomi keluarga. Ia menambahkan bahwa pemberdayaan melalui pelatihan vokasi akan memperluas kesempatan kerja.

Solusi pertama yang dibahas ialah program kerja sama dengan kedutaan negara tujuan, khususnya di Timur Tengah dan Asia Tenggara, untuk menyalurkan tenaga kerja terdidik dalam bidang teknis dan manajerial. Program tersebut mencakup pelatihan bahasa, sertifikasi internasional, dan penyesuaian budaya.

Untuk mendukung program luar negeri, Kementerian Ketenagakerjaan akan menyusun skema beasiswa pelatihan pra-penempatan selama tiga bulan, dengan biaya ditanggung pemerintah. Peserta yang berhasil ditempatkan akan menerima kontrak kerja minimal dua tahun.

Solusi kedua menitikberatkan pada percepatan transformasi digital ekonomi nasional, terutama di sektor e‑commerce, fintech, dan startup teknologi. Pemerintah berencana mengalokasikan dana khusus sebesar Rp5 triliun untuk inkubasi bisnis digital yang melibatkan lulusan baru.

Dalam rangka meningkatkan kesiapan digital, kementerian pendidikan akan menambah mata kuliah coding, data analytics, dan kecerdasan buatan pada kurikulum perguruan tinggi. Selain itu, program magang industri digital akan diintegrasikan ke dalam standar akreditasi.

Kolaborasi dengan sektor swasta juga menjadi agenda utama, dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Kementerian Ketenagakerjaan dan Asosiasi Perusahaan Teknologi Indonesia. Nota tersebut mencakup komitmen penempatan 10.000 lulusan terampil dalam tiga tahun ke depan.

Universitas terkemuka seperti Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Bandung diminta untuk menyesuaikan kurikulum agar selaras dengan kebutuhan pasar kerja. Mereka juga akan menyediakan laboratorium simulasi kerja digital untuk mahasiswa.

Target jangka menengah adalah menurunkan tingkat pengangguran terdidik menjadi di bawah 8% pada akhir 2027, melalui sinergi kebijakan penempatan luar negeri dan penguatan ekonomi digital. Monitoring dan evaluasi akan dilakukan setiap enam bulan.

“Kami optimis bahwa kombinasi kerja luar negeri dan pengembangan ekonomi digital akan membuka ribuan lapangan kerja baru bagi lulusan Indonesia,” ujar Menteri Ahmad Riza Patria dalam sambutan penutupan. Ia menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor.

Siti Nurul Aini menambahkan, “Muslimat NU siap menjadi jembatan antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat untuk memastikan setiap lulusan terdidik memiliki akses kerja yang layak dan berkelanjutan.”

FGD berakhir dengan penetapan timeline implementasi kebijakan, termasuk peluncuran portal daring untuk informasi lowongan kerja internasional pada awal Mei 2026. Pemerintah berjanji akan meninjau hasil secara berkala dan menyesuaikan strategi sesuai kebutuhan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.